Blog pendidikan

Selasa, 09 Maret 2021

Tips-Tips Menulis

    

Suatu saat, ada teman saya yang meminta saya untuk mengajarinya menulis. Lalu saya mau, tapi dengan cara menulis tips-tips yang saya tahu dengan bentuk artikel. Karena harapannya adalah agar tulisan ini bisa dinikmati oleh banyak orang(Toh, temanku itu sedang sibuk berkhidmah. Jadi, bisa dibaca suatu saat). Seperti kata pepatah : sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.  Tidak hanya memberi tips-tips menulis di WA, tapi juga melatih skill menulis dan bisa dibaca orang banyak.

     Sebenarnya, sebelum aku sharing tentang cara bisa menulis, seharusnya aku harus tau apa kendala seseorang dalam hal menulis, dengan begitu baru bisa memberikan solusi. Maka dari itu interaksi sangat dibutuhkan.

     Banyak membaca dan menulis.
     Jadi, hal yang paling mendasar untuk bisa menulis adalah dengan banyak-banyak membaca dan menulis. Bacalah apa saja. Novel, cerpen, majalah, koran, blog, web, dll. Kenapa banyak membaca? Karena banyak membaca berpotensi banyak ilmu. Kalau kita banyak ilmu, maka  akan memudahkan kita dalam menulis. Karena bahan-bahan atau amunisi itu akan mudah kita dapatkan. Apabila kita banyak membaca, maka tulisan kita akan berbobot.

      Selain itu, bagiku, kita juga perlu membaca dan mengamati gaya menulis para tokoh besar seperti Habiburrohman el - Shirazy, A. Fuady, Tereliye, Asma Nadia atau siapapun penulis yang kita sukai dengan banyak membaca karyanya. Kalau kita belum bisa menulis dengan gaya kita sendiri, kita bisa mencontoh gaya penulis terkenal seperti mereka. Karena apapun yang kita baca akan berpengaruh pada apa yang kita tulis. 

     Di luar ilmu kepenulisan itu sendiri sebenarnya membaca(wa bil khusus membaca buku) membuat kita cerdas dan berwawasan luas. Banyak tokoh tokoh besar yang mempunyai hobi membaca buku atau kitab. Mulai dari Stave Jobs, Mark Zuckerberg, Ir. Soekarno, Gus Dur, BJ. Habibie, dll. Bahkan mereka menetapkan membaca sekian jam perhari. Selain itu, membaca juga menyenangkan dan dapat menurunkan stress. Jadi, untuk apa mencari kesenangan-kesenangan yang berdosa dan tak bermanfaat kalau kesenangan yang bermanfaat dan besar pengaruhnya itu ada? Jadi, cobalah dulu!

      Sama halnya dengan membaca, banyak menulis juga mempengaruhi kualitas tulisan kita dan akan mempermudah kita dalam menulis seperti cerpen, artikel atau novel tentunya. Sedikit demi sedikit akan menjadi bukit. Tulislah walaupun itu dua atau tiga kalimat. Jadikan apapun sebagai bahan menulis. Sakit hati, tulis. Jatuh cinta pada seseorang, tulis. Diskusi dengan seorang teman, tulis. Ketika membaca buku, tulis ilmu dan kesimpulannya(makanya ketika baca buku harus siap pena dan kertas di samping kita). Catatlah kejadian-kejadian masa lalumu untuk diambil pelajarannya. Intinya tulis saja, entah dengan gaya formal atau cerita. Untuk menjaga agar tetap menulis, bawalah buku dan pena setiap saat. Sesuai yang dianjurkan oleh Ulama'(baca artikel sebelumnya). Habiburrohman el-Shirazy sendiri dulu selalu membawa buku. Beliau tak peduli kalau perbuatan itu, kata temannya seperti cewek. Seharusnya, kalau masalah ilmu, kita mengesampingkan gengsi dan rasa malu.

Imam Syafi'i pernah berkata : "Ilmu adalah binatang buruan. Sedangkan tulisan adalah ikatannya. Hanya orang yang bodohlah yang memburu kijang dan membiarkan terlepas di hamparan bebas."

     Evaluasi
     Menulis hampir sama dengan publik speaking. Sama-sama mengamalkan ilmu, mengasah otak dan menyenangkan. Publik speaking ada evaluasi, bertanya dan meminta saran kepada yang lebih ahli dan selalu berlatih seperti menulis. Hanya saja lewatnya yang beda.

     Evaluasi di sini bisa diartikan bahwa kita harus berani menyodorkan tulisan kita kepada orang yang lebih ahli untuk di koreksi. Karena itu akan membuat kita tambah ilmu dan akan menambah kualitas tulisan kita. Setiap selesai menulis dan mengoreksinya, serahkan kepada teman atau siapa saja yang lebih ahli untuk dikoreksi. Jaring banyak teman yang lebih unggul dalam tulis-menulis. Berkumpullah dengan mereka. 

     Juga bisa diartikan bahwa kita jangan malas untuk menulis hal, tema atau cerpen yang sama, untuk ditulis lagi. Tentu bukan jiplak, tapi dengan tulisan baru dan gaya tulisan yang baru. Aku mengambil kesimpulan bahwa tulisan kita bisa disebut baik kalau kita menulis tema yang sama lebih dari dua kali, dan semua bagus.


     Pesan para penulis
     Bunda Asma-sapaan akrab Asma Nadia-pernah berkata, "Jadilah editor bagi diri sendiri." Artinya, kita jangan malas mengevaluasi dan merevisi bagian-bagian yang dirasa kurang bagus, baik dan tepat. Tentu setelah selesai menulis.

     Habiburrohman el-Shirazy juga berkata bahwa jangan malas untuk membaca berulang-ulang apa yang kita tulis. Memang betul, karena setelah kita selesai menulis dan membacanya lagi, kita akan menemukan kejanggalan-kejanggalan yang sebelumnya kita tidak menyadarinya.

     A. Fuady sendiri mempunyai slogan, "Menulis dari hati." Karena yang dari hati akan sampai ke hati. Itulah mengapa, saat aku bercerita tentang kehidupanku-seperti mengapa saat mondok di sini aku berubah delapan puluh persen, dulu nakal sekarang tidak, dll.-di pondok kepada kawan-kawanku(saat buka bersama)mereka berteriak histeris. Entah kagum, haru atau apa. Mungkin sampai ke hati mereka, karena itu juga sampaikan dari hati. 

     Sedangkan tereliye berkata yang kurang lebih: "Tulislah saja, mengalir. Masalah edit itu belakangan(kalau sudah jadi)". Karena, kalau kita menulis dan edit dilakukan secara bersamaan maka kita tak akan nulis-nulis.  

     Tokoh-tokoh yang menulis.
     Sebagai motifasi, banyak tokoh dan Ulama' yang menulis. Walaupun profesinya tidak penulis. Mulai dari Cak Nun, Gus Mus, Gus Dur, Pak Habibie, Bung Karno, Buya Hamka, Mbah KH. Hasyim Asy'ari, Imam Ghazaly, Imam Suyuti, Imam Syafi'i, dll.(bisa dibayangkan kebanyakan 'Ulama itu menulis, bahkan mereka dikenal sampai sekarang karena menulis)
Aku pernah baca quotes dari founder @madanitraining(kelas menulis online langsung menjadi buku)bahwa menulis tidak harus menjadi profesi. Tapi, apapun profesimu menulislah.

    Penutup    
    Yang terpenting, banyaklah membaca dan menulis mulai dari sekarang. Mempelajari ilmu dan pengalaman penulis besar itu penting. Tapi, untuk apa kalau kita mempelajari kiat- kiat menulis tapi kita tidak mulai menulis? Selalu membaca dan menulis disertai dengan semangat dan tekad yang kuat. Dan, selalu belajar kapada penulis-penulis hebat.
 
     Agar tak lupa, catatlah kesimpulan atau dengan bentuk mind map agar lebih mudah untuk dilihat dan diingat.

    Selamat mencoba dan semoga sukses!

                      
                            Jepara, 10 Maret 2021                  

   

Cttn : Saran sangat dibutuhkan untuk penulis abal-abal ini.