Blog pendidikan

Sabtu, 25 Desember 2021

Pelajaran dari Timnas Indonesia.

 Pada tahun sekitar duaribu tiga belasan Timnas Indonesia menjajal uji coba melawan club-club besar Eropa. Seperti Barcelona, chealsea, intermilan, bayer munchen, dll. Hal itu sangat baik karena timnas akan mengetahui secara langsung dan merasakan bagaimana club besar Eropa bermain dan seberapa kemampuan kita bermain daripada club-club besar itu. Dalam pertandingan itu, timnas berusaha keras untuk bisa menyamai dan kalau perlu mengungguli mereka dalam bermain sepak bola. 

Dari kisah singkat tersebut, dapat diambil pelajaran bahwa jika kita ingin maju, singkirkan rasa malu. Apalagi gengsi. Indonesia tidak takut malu banyak dibobol oleh club-club besar itu karena akan banyak pelajaran dan pengalaman bagi Indonesia. Begitupun ilmu, kalau kita ingin menjadi orang berilmu, ambillah ilmu itu dimana saja, walaupun itu ada pada anak kecil atau gelandanganpun.

Selain itu, pertandingan itu mengajarkan kita untuk selalu berada di lingkungan orang-orang yang lebih tua dan berilmu daripada kita. Jika begitu, kita akan lebih cepat berkembang. Tetapi walau seperti itu, kita tak boleh pilih-pilih teman dan tetap membuka pintu lebar-lebar kepada seseorang yang ingin berteman baik dengan kita.

Minggu, 24 Oktober 2021

Self Reminder

 Pengingat diri

1. Jangan iri dengan kehidupan oranglain yang bermewah-mewahan dan bersenang-senang. Tetaplah menjadi dirimu yang sederhana. Karena bahagia itu sebenarnya sederhana. Tidak perlu bahagia dengan bermewah-mewahan kalau dengan yang sederhana saja bisa. Nikmati saja apa yang kamu lakukan. Jangan melihat kenikmatan oranglain. 

Menikmati rokok kopi dengan kawanmu yang sholeh, cerdas dan humoris atau dengan mendengarkan ceramah lucu dan berbobot, atau dengan membaca maupun menulis itu sebenarnya sudah membuat kamu bahagia.

2. Sebenarnya yang membuat kita gelisah, sedih, masalah ada atau seakan-akan semakin besar itu karena kau pikirkan. Kosongkanlah pikiran kita terhadap hal yg tak membuat kita berkembang! Tak ada gunanya memikirkan sesuatu yang membuatmu gelisah dan bersedih. Nikmatilah saja hidup ini dan fokuslah pada masa depan!

Begitu pula ketika kita gelisah menginginkan sesuatu yang tidak kita punyai, itu karena kita terus memikirkannya. Cobalah untuk melupakannya dan menikmati apa yang ada, maka penderitaan karena menginginkan sesuatu itu akan berakhir.

Misal, kita menginginkan hp baru, pacar, atau apalah yang itu berdasarkan nafsu, bukan berdasarkan kebutuhan penting atau kemanfaatannya, jika kita berhenti memikirkannya dan melupakannya maka itu sebenarnya sudah menjadi solusi yang tepat. 

Jumat, 22 Oktober 2021

Pelajaran Dari Pak Jokowi : Kunci Hebat dalam Memimpin Negara.

Pelajaran dari pak Jokowi saat ditanyai cak Lontong mengapa bisa hebat dalam memimpin sampai2 dipilih menjadi bupati dan presiden dua periode. Jawaban pak Jokowi adalah yang terpenting dimulai dari kita sendiri dalam memimpin keluarga. Ini yang paling penting, ucap pak Jokowi mengulanginya lagi.


Misal, kita mempunyai rumah tangga baru, lalu kita menyusun visi dan misi untuk kedepan, lalu kita berlatih bagaimana cara agar rumah tangga kita dari sisi ekonomi bisa tercukupi dan lebih-lebih bisa membantu orang yang membutuhkan. Ketika ada masalah datang, bagaimana agar kita bisa memimpin rumahtangga kita agar bisa menyikapi masalah itu dengan baik. Dan juga bagaimana agar rumahtangga bisa mencapai kesuksesan yang akibatnya bisa bermanfaat bagi keluarga itu sendiri dan masyarakat. Dalam lingkungan keluarga inilah kita akan latihan kecil yang akan bermanfaat ketika kita akan memimpin yang lebih besar lagi. Intinya, latihlah jiwa kepemimpinanmu dengan melatih keluargamu dulu. Kamu bisa menjadikan istrimu partner atau wakilmu untuk membawa keluargamu-khususnya-anakmu agar sukses segalanya. Sukses di dunia dan akhirat.

*Tulisan di atas adalah pengembangan dari pelajaran yang diambil dari perkataan pak Jokowi.

Selasa, 27 Juli 2021

Tulisan yang Menjadi Pegangan

 1. https://lirboyo.net/senyum-adalah-ibadah/ 

2. https://lirboyo.net/isilah-waktu-luang/

      Ada satu quote menarik :"Gabut adalah potensi maksiat."

      Quote itu memang bukan dari tokoh terkenal. Ya, quote itu dari aku sendiri yang pengetahuan dan pengalaman hanya segelintir putung rokok. Bukan sepres, sekardus atau sepabrik. Tapi, walau seperti itu, aku akan berusaha untuk menjelaskannya mengapa aku berkata seperti itu.

     Dimulai dengan membahas tentang waktu. Perlu diingat sangat bahwa hidup di dunia hanya sebentar. Di akhiratlah hidup sesungguhnya yang kekal.

     Sadar tidak sadar seringkali kita menggunakan waktu kita dengan hal yang ga ada faedah. Medsos an, buka status orang di wa, instagram, facebook, dsb. Kita tidak tahu kalau kegiatan kita di dunia kelak akan di tanya di hari akhir.

      Atau pernah gak kita merasakan suatu kebosanan yang amat lama, kesedihan akan masalah yang datang bertubi-tubi, meratapi kekurangan diri yang gak bikin kita bersukur dan berkembang, atau malas bergerak di zona nyaman.

    Percayalah satu hal sama yang menjadi faktor di atas adalah waktu yang kosong. Kekosongan waktu menjadikan kita memikirkan masalah, meratapi nasib, kekurangan diri, dll. Itulah yang membuat kita bersedih. 

     Terkadang kekosongan waktu itu terjadi karena kita tidak tahu untuk melakukan hal apa. Padahal perlu diketahui bahwa kekosongan waktu adalah peluang setan membujuk kita ke kemaksiatan. Iya, gabut adalah potensi maksiat. Lebih lagi, kita sering mendapati banyak hal jelek dan terlarang di sekitar kita. Misal di handphone. Saat kita gabut, kita hanya membuka wa, instagram, facebook, atau sebagainya. Yang di sana sangat mudah ditemukan hal yang memancing kita ke kemaksiatan atau minimal membuang waktu.

     Untuk itu, kalau kita sudah tahu akar masalahnya, saatnya kita mencari solusinya. Kita bisa mencari bagaimana caranya agar waktu kita selalu terisi. Jangan terlalu lama dengan handphone karena bisa berakibat jelek pada kita. Cari tahu apa potensi dalam diri kita atau cari kesibukan lain yang baik. Kita bisa menyibukkan diri tenggelam dalam rentetan tulisan di buku-buku, tenggelam dalam imajinasi, Menelaah kitab, berdiskusi dengan senior yang semangat belajarnya tinggi yang itu bisa membuat kita terinspirasi untuk semangat belajar dan mengejar impian-impian, solat sunnah meminta agar di beri jalan yang lurus. Kita juga bisa menulis kegiatan apa saja di tempat yang sering kita lihat, agar saat kita gabut kita langsung teringat untuk melakukan apa. Di temboklah, di almarilah, di pintu atau dimana aja deh terserah. Atau, kita bisa berolahraga dan menyalurkan hobi yang baik.

     Sebagai pesan terakhir, saya ulangi, gabut adalah potensi maksiat. Maka isilah waktu dengan hal yang bermanfaat. Hidup di dunia adalah jalan menuju akhirat. Surga atau neraka. Hidup berarti lalu mati.

Kudus, malam Jum'at, 16 September 2021.

3. https://lirboyo.net/kekhususan-membaca-kitab-dalailul-khairat-di-akhir-zaman/

"Keutamaan membaca kitab ini, bisa memunculkan ide-ide cemerlang yang timbul dari hati, dan hal ini datang dengan sendirinya. Atau kesulitan apa saja bisa ditemukan jalan keluarnya"

"Yaitu hati yang bersih, hati yang suci, termasuk hati kita orang-orang yang suka membaca shalawat. Itulah ciri khasnya."

Jumat, 28 Mei 2021

Catatan Harian 2 : Tanggapan Atas Pernyataan Seorang Teman

 Bismillah.


Malam itu, satu hari sebelum masuk pondok, aku berdialog dengan teman seangkatan dan seumuran. Pada waktu itu, aku bertanya kepadanya "lan, liburan ini kamu nulis gak?" Lalu dia menjawab, "Piye yo, aku durung moco buku," kata Fulan. Lalu dia melanjutkan,"Aku nek nulis iku kudu moco buku sejarah utowo seng berbobot sek." kira-kira dia berkata seperti itu. Maksudnya adalah dia kalau menulis itu membaca dulu baru bisa mendapatkan ide. Dan itupun harus buku yang berbobot atau buku sejarah. Asal bukan novel atau buku motifasi.

Sekilas tentang temanku itu, dia adalah Kamvret yang lahirnya duluan aku, tapi wajahnya duluan sana, wkwkw, jadi wajahnya membalap umurnya...hh..canda😂✌. Kami seangkatan di pondok dan mempunyai hobi yang sama. Yaitu membaca dan menulis. Dulu waktu jadi anak baru kami sangat akrab. Kadang sharing-sharing atau diskusi mengenai suatu hal. Dan itupun sampai sekarang masih. Walaupun aku tahu-bukan bermaksud sombong-bahwa soal cerdas dan wawasan masih banyakkan aku sedikit, banyakan dia banyak😅. (Wkwk, bermaksud canda, maksudnya)

Sampai beberapa tahun sebelum batas akhir di pondok, kami saling menanyai kelak mau melanjutkan di mana, sampai kita saling berkata, " ojo lali aku lo." So sweet banget gak sih😂. Bahkan, terkadang dia juga saya jadikan sebagai pacuan. Intinya, aku jangan sampai kalah sama dia, batinku. Wabil khususnya dalam hal menulis.

Setelah beberapa waktu berlalu, hubungan kitapun seakan-akan seperti saingan. Suatu ketika, saat seangkatan sudah tahu siapa diantara kami(seangkatan) ada yang punya adik, teman-temanpun mulai menganggil kakak kepada beberapa teman yang mempunyai adik. Termasuk si Kamvret, bahkan ia sangat intensif sekali memanggil kakak. Tapi sialnya, dia dicuekkin sama mereka. Malahan, aku yang di panggil "dek" oleh temanku itu. Yes, dan akupun menang. Haha.

Sebenarnya, sebelum aku mempunyai hobi membaca dan menulis, dia sudah terlebih dulu mempunyainya. Aku baru mempunyai hobi membaca ketika di tahun kedua dan menulisnya di tahun ketiga. Dia tipe penulis dengan gaya penyampaian seperti sudjiwo tejo, menurutku. Dia sangat mengagungkan penulis Eka Kurniawan. Sedangkan aku Habiburrohman El-Shirazy.

Lanjut pada dialog pada malam itu, sebenarnya tulisan ini sebagai tanggapan padanya dan diapun nanti boleh menanggapinya lagi. Karena memang tradisi seperti ini sudah terjadi sejak zaman dahulu. Dan diantara kitapun tidak ada yang dibawa ke perasaan.

Sebagai santri yang sama-sama mempunyai hobi menulis, kami berbeda dalam "mencari ide". Seperti yang sudah disebutkan tadi, dia baru bisa mendapatkan ide ketika sudah membaca buku yang berbobot atau sejarah. Menurutku-sebagai pembelajaran bersama-seyogyanya seorang yang hobi menulis tidak mendapatkan ide hanya seperti itu. Kalau seperti itu, itu artinya kita membatasi sumber untuk mendapatkan ide. Karena, penulis baru harus banyak menulis. Jadi kalau ide tulisan saja di dapatkan baru kalau membaca buku sejarah, lalu kapan kita akan banyak menulis?

Kita harus bisa mendapatkan ide dari manapun. Entah dari membaca, mentadabburi alam atau kejadian yang sedang hangat di sekitar kita, pengalaman kita atau dari musik dan film sekalipun. Bahkan, Emha Ainun Nadjib untuk mendapatkan ide tidak perlu seperti tadi. Dia hanya perlu alat tulis saja sudah bisa menulis. Mungkin memang karena luasnya wawasan dan pemikirannya.

Mungkin sekian, tulisan ini bukan hanya mengkritik teman saya, tapi juga buat pembelajaran bagi saya dan semua orang yang mau mendapatkan pelajaran.

Walhamdulillah.

Ket. : Yang dimaksud bisa menulis(temanku tadi) adalah menulis panjang, bukan beberapa kalimat saja.
Nb : Seperti nb" biasanya.😅

Rabu, 26 Mei 2021

Catatan Harian 1 : Ingin Seperti Cak Nun

 Bismillah.

     Ketika aku menonton video cak nun-pada saat itu sedang gojlok-gojlokan dengan Sudjiwo Tejo-aku merasa terinspirasi dengan kecerdasan cak nun. Lalu, seketika itu aku juga ingat gus Dur dan cak Nur, yang sama cerdasnya, yang dikenal sebagai intelektual muslim. Dengan kekagumanku pada kecerdasannya itu, aku malah ingin mendalami sejarah mereka dan meneladaninya. Bagaimana kehidupan sehari-hari mereka, bagaimana mereka dalam hal membaca buku, dll.

     Mereka(setahuku)sama-sama pencinta buku. Gus Dur malah penggila buku. Selain itu, aku memahami dari mereka bahwa lingkungan sangat mempengaruhi kualitas diri mereka. Cak Nun dulu waktu kecil sering membaca buku, ayahnya adalah pengurus Muhammadiyah yang mempunyai banyak buku di rumahnya. Lalu, beliau juga pernah studi di jogja yang notabene adalah kota pelajar dan tentunya, lingkungan pertemanannya sangat mendukung. Sedangkan Gus Dur adalah penggila buku sejak kecil yang pernah nyantri di ponpes salaf API Tegalrejo.  Lalu mereka(termasuk Gus Mus juga) bertemu di Universitas Al-Azhar yang tentunya bertemu dengan kawan yang pintar nan shalih dari beberapa negara dan Syeikh-syeikh yang tidak diragukan lagi keilmuan dan keshalihannya.

Saat aku menonton video tersebut juga muncul semangat untuk belajar dan membaca buku. Padahal, sebelumnya aku kurang bergairah belajar. Kadang aku bertanya pada diri ini, mengapa aku susah-susah membaca lalu menulis pelajarannya?

Ya, lingkungan! Lagi-lagi lingkungan. Alhamdulillah! Baru tahu jawabannya setelah menulis artikel.(Karena menulis merupakan suatu cara berpikir atau memperluas pemikiran, muhasabah diri dan mengkritisi suatu hal)

Lingkungan memang sangat mempengaruhi. Mungkin aku kurang semangat belajar karena tidak ada lawan yang menjadi tantanganku. Padahal, sebenarnya banyak teman umum dan pondok yang cerdas-cerdas. Dan aku bisa saja terpacu dari kecerdasan mereka. Tapi, mengapa aku tetap belum bisa terinspirasi dari mereka? Setelah aku selidiki ternyata penyebabnya adalah aku jarang berbaur dengan mereka. Maka dari itu berbaurlah dengan kawan-kawanmu yang cerdas-cerdas nan baik. Maka, kamu akan terpengaruh dan terpacu untuk semangat belajar. Dan, belajar tidak menjadi bebanmu lagi.

(oiya, aku ingat pernah lebih semangat dan terinspirasi belajar ketika aku ngobrol dengan temanku yang otaknya cerdas)

Untuk itulah-sebagai nasehat diri- seharusnya aku bisa memanfaaatkan teman-teman dengan berbaur dengan mereka. Lihatlah bagaimana santri salaf yang aktif duduk bersama mengikuti forum musyawarah kelak menjadi Kyai besar seperti mbah Manaf Lirboyo, mbah Munawwir Krapyak, dll. Lihatlah seringnya-dan mungkin hampir tiap hari-Cak Nun dan Sudjiwo Tejo berdialog bersama dan juga dengan masarakat. Membahas dari ringan sampai tingkat tinggi, dari politik sampai tasawuf. Lihatlah Najwa Shihab berdiskusi bersama dengan mahasiswa, politisi dan orang hebat lainnya dalam satu forum. Semua itu orang yang cerdas nan hebat. Jadi, kesimpulannya adalah belajar tidak harus dengan menyendiri membaca buku terus, tapi adakalanya belajar dengan berbaur bersama teman kita yang cerdas, gojlok-gojlokan, membahas atau berdiskusi hal-hal ringan sampai yang berat itu perlu. Kalau kita ingin seperti mereka maka pelajari apa yang mereka lakukan dan teladanilah. Tapi perlu diingat! menjadi orang yang sangat cerdas dan berwawasan luas tanpa membawa pengaruh dan manfaat yang luas adalah kesia-siaan.

Walhamdulillah.

Nb: saran dan komentar dibuka seluas-luasnya.



Rabu, 05 Mei 2021

Strategi Agar Terus Membaca Buku

Assalamualaikum warahmatullohi wabarokatuh.

Sebelum menulis tulisan ini, sebenarnya saya kurang semangat menulis. Padahal, saat di pondok dulu, banyak ide-ide yang saya catat, untuk saya kembangkan saat liburan nanti. Akan tetapi, saat saya mencari motivasi dengan menonton video milik fiersa besari, saya langsung termotifasi untuk menulis dan membaca. Sampai sini bisa diambil pelajaran bahwa motifasi itu penting.

Saya bersukur diberi anugrah suka membaca buku. Dan, saya juga sadar ternyata begitu penting sekali membaca buku.  Padahal, jiwa yang kritis bisa didapatkan dengan membaca. Wawasan yang luas dan pikiran yang cerdas bisa didapatkan dari membaca. Pikiran yang maju bisa didapatkan dengan membaca. Ketenangan dan kebahagiaan bisa didapatkan dengan membaca. Tapi, mengapa masih sedikit sekali orang Indonesia yang suka membaca buku? Mungkin, orang Indo sukanya membaca status sidoi aja kali ya, haha.

Walaupun saya dan beberapa orang Indonesa ini suka membaca, tapi masih sulit kita untuk bisa terus membaca buku. Entah, karena perpustakaan di negara ini masih jarang atau tidak merata, kalaupun ada toh tidak lengkap dan menarik, buku mahal, terlalu banyak pelajaran dan pr sekolah sehingga tidak ada waktu untuk membaca, dll.

Untuk itu, bagi kita yang pecinta buku, perlu untuk merancang strategi agar kita kedepannya masih bisa terus membaca. Kita sudah tahu betapa pentingnya membaca, maka dariitu tetapkanlah strategi agar bisa terus membaca. Kita diberi anugrah Allah subhanahuwata'ala suka membaca buku, maka bersukurlah dengan menjaganya agar terus membaca.

Kedepannya, nasehat untuk diri kita sendiri, pertama, apabila kita mau mondok atau kuliah, carilah lingkungan yang banyak menemukan perpustakaan atau toko buku. Atau tempat itu sendiri mempunyai perpustakaan dan orang-orangnya suka membaca. Untuk itulah, riset tempat belajar sangat diperlukan. Karena itu yang menentukan kualitas diri kita kedepannya.

Kedua, apabila kita tidak cukup mempunyai uang dan ingin bekerja, carilah pekerjaan yang ada waktu untuk membaca atau malah yang mendorong kita untuk membaca. Jangan malah mencari pekerjaan yang menjauhkan atau melupakan kita dari membaca buku. Misal, menjaga warnet, ps, atau sejenisnya, pegawai perpustakaan, mengirim tulisan di koran, majalah website dan sejenisnya, membuat konten youtube tentang buku(review, dll), tentang perpustakaan, atau lainnya, atau kalian ada ide tersendiri. Yang terpenting, jangan menjadi penjaga hati pacar orang. Wkwk. Nanti, kita jadi malingnya kalau begitu.

Ketiga. Carilah sebanyak-banyaknya teman yang suka membaca. Apalagi teman yang perempuan(lumayan bisa cari pacar yang sehobi, wkwk). Atau kita bisa bikin komunitas membaca buku(Ini tambah lumayan lagi malah). Karena, kita akan bisa meminjam buku, jadi gak usah repot-repot beli, kita akan berkumpul dengan orang-orang pintar dan termotifasi untuk banyak membaca. Dan, kita bisa dengan mudah berdiskusi apapun termasuk berdiskusi tentang buku. Saya sendiri, cocok dengan Jogja. Karena disamping di sana ada banyak perpustakan, di sana juga banyak komunitas, banyak teman-teman mahasiswa yang pintar-pintar dan banyak tempat enak untuk membaca.


Sedikit tambahan mengenai membaca. Jadi gini, pernah nggak kita melihat teman atau senior kita kok pintar sekali. Saat diskusi atau rapat misalnya. Lah, kita sebenarnya bisa seperti itu apabila kita mau membaca, yang tentu ada caranya sendiri dalam hal membaca. Atau kita heran kepada teman kita yang bisa menelurkan pikiran-pikiran yang brilian, kata-kata bijak, atau solusi-solusi yang tepat. Itu juga karena membaca buku. Mungkin itu salah satunya, tapi mungkin saja, itu adalah faktor yang dominan

Mungkin untuk sementara itu saja, apabila ada komentar atau tambahan silahkan komen atau dm saya. Atau bisa minta nomer wa saya langsung. Di situ kita bisa berdiskusi bersama(modus, checkk😂) Yang penting jangan tanya saya sudah punya pacar atau belum, karena memang saya tidak punya pacar😂😂. Wkwk. 

Saya tahu, bahwa saya orang yang tidak terlalu pintar atau biasa saja. Tapi, apabila saya takut unjuk gigi, maka saya tak akan berkembang. Takut dikomentar justru menunda untuk berkembang. Justru dengan adanya komentar, kita akan mendapatkan pelajaran juga melatih mental. Dengan adanya orang yang mencaci, itu akan membuat kita merasa masih bodoh dan terus belajar. Jangan berhenti belajar! Jangan gara-gara orang lain, kita berhenti belajar. Salam. Pecinta buku. 

Wassaalamualaikum warahmatullohi wabarokatuh.

Jepara, kamis, 6 Mei 2021

Selasa, 09 Maret 2021

Tips-Tips Menulis

    

Suatu saat, ada teman saya yang meminta saya untuk mengajarinya menulis. Lalu saya mau, tapi dengan cara menulis tips-tips yang saya tahu dengan bentuk artikel. Karena harapannya adalah agar tulisan ini bisa dinikmati oleh banyak orang(Toh, temanku itu sedang sibuk berkhidmah. Jadi, bisa dibaca suatu saat). Seperti kata pepatah : sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.  Tidak hanya memberi tips-tips menulis di WA, tapi juga melatih skill menulis dan bisa dibaca orang banyak.

     Sebenarnya, sebelum aku sharing tentang cara bisa menulis, seharusnya aku harus tau apa kendala seseorang dalam hal menulis, dengan begitu baru bisa memberikan solusi. Maka dari itu interaksi sangat dibutuhkan.

     Banyak membaca dan menulis.
     Jadi, hal yang paling mendasar untuk bisa menulis adalah dengan banyak-banyak membaca dan menulis. Bacalah apa saja. Novel, cerpen, majalah, koran, blog, web, dll. Kenapa banyak membaca? Karena banyak membaca berpotensi banyak ilmu. Kalau kita banyak ilmu, maka  akan memudahkan kita dalam menulis. Karena bahan-bahan atau amunisi itu akan mudah kita dapatkan. Apabila kita banyak membaca, maka tulisan kita akan berbobot.

      Selain itu, bagiku, kita juga perlu membaca dan mengamati gaya menulis para tokoh besar seperti Habiburrohman el - Shirazy, A. Fuady, Tereliye, Asma Nadia atau siapapun penulis yang kita sukai dengan banyak membaca karyanya. Kalau kita belum bisa menulis dengan gaya kita sendiri, kita bisa mencontoh gaya penulis terkenal seperti mereka. Karena apapun yang kita baca akan berpengaruh pada apa yang kita tulis. 

     Di luar ilmu kepenulisan itu sendiri sebenarnya membaca(wa bil khusus membaca buku) membuat kita cerdas dan berwawasan luas. Banyak tokoh tokoh besar yang mempunyai hobi membaca buku atau kitab. Mulai dari Stave Jobs, Mark Zuckerberg, Ir. Soekarno, Gus Dur, BJ. Habibie, dll. Bahkan mereka menetapkan membaca sekian jam perhari. Selain itu, membaca juga menyenangkan dan dapat menurunkan stress. Jadi, untuk apa mencari kesenangan-kesenangan yang berdosa dan tak bermanfaat kalau kesenangan yang bermanfaat dan besar pengaruhnya itu ada? Jadi, cobalah dulu!

      Sama halnya dengan membaca, banyak menulis juga mempengaruhi kualitas tulisan kita dan akan mempermudah kita dalam menulis seperti cerpen, artikel atau novel tentunya. Sedikit demi sedikit akan menjadi bukit. Tulislah walaupun itu dua atau tiga kalimat. Jadikan apapun sebagai bahan menulis. Sakit hati, tulis. Jatuh cinta pada seseorang, tulis. Diskusi dengan seorang teman, tulis. Ketika membaca buku, tulis ilmu dan kesimpulannya(makanya ketika baca buku harus siap pena dan kertas di samping kita). Catatlah kejadian-kejadian masa lalumu untuk diambil pelajarannya. Intinya tulis saja, entah dengan gaya formal atau cerita. Untuk menjaga agar tetap menulis, bawalah buku dan pena setiap saat. Sesuai yang dianjurkan oleh Ulama'(baca artikel sebelumnya). Habiburrohman el-Shirazy sendiri dulu selalu membawa buku. Beliau tak peduli kalau perbuatan itu, kata temannya seperti cewek. Seharusnya, kalau masalah ilmu, kita mengesampingkan gengsi dan rasa malu.

Imam Syafi'i pernah berkata : "Ilmu adalah binatang buruan. Sedangkan tulisan adalah ikatannya. Hanya orang yang bodohlah yang memburu kijang dan membiarkan terlepas di hamparan bebas."

     Evaluasi
     Menulis hampir sama dengan publik speaking. Sama-sama mengamalkan ilmu, mengasah otak dan menyenangkan. Publik speaking ada evaluasi, bertanya dan meminta saran kepada yang lebih ahli dan selalu berlatih seperti menulis. Hanya saja lewatnya yang beda.

     Evaluasi di sini bisa diartikan bahwa kita harus berani menyodorkan tulisan kita kepada orang yang lebih ahli untuk di koreksi. Karena itu akan membuat kita tambah ilmu dan akan menambah kualitas tulisan kita. Setiap selesai menulis dan mengoreksinya, serahkan kepada teman atau siapa saja yang lebih ahli untuk dikoreksi. Jaring banyak teman yang lebih unggul dalam tulis-menulis. Berkumpullah dengan mereka. 

     Juga bisa diartikan bahwa kita jangan malas untuk menulis hal, tema atau cerpen yang sama, untuk ditulis lagi. Tentu bukan jiplak, tapi dengan tulisan baru dan gaya tulisan yang baru. Aku mengambil kesimpulan bahwa tulisan kita bisa disebut baik kalau kita menulis tema yang sama lebih dari dua kali, dan semua bagus.


     Pesan para penulis
     Bunda Asma-sapaan akrab Asma Nadia-pernah berkata, "Jadilah editor bagi diri sendiri." Artinya, kita jangan malas mengevaluasi dan merevisi bagian-bagian yang dirasa kurang bagus, baik dan tepat. Tentu setelah selesai menulis.

     Habiburrohman el-Shirazy juga berkata bahwa jangan malas untuk membaca berulang-ulang apa yang kita tulis. Memang betul, karena setelah kita selesai menulis dan membacanya lagi, kita akan menemukan kejanggalan-kejanggalan yang sebelumnya kita tidak menyadarinya.

     A. Fuady sendiri mempunyai slogan, "Menulis dari hati." Karena yang dari hati akan sampai ke hati. Itulah mengapa, saat aku bercerita tentang kehidupanku-seperti mengapa saat mondok di sini aku berubah delapan puluh persen, dulu nakal sekarang tidak, dll.-di pondok kepada kawan-kawanku(saat buka bersama)mereka berteriak histeris. Entah kagum, haru atau apa. Mungkin sampai ke hati mereka, karena itu juga sampaikan dari hati. 

     Sedangkan tereliye berkata yang kurang lebih: "Tulislah saja, mengalir. Masalah edit itu belakangan(kalau sudah jadi)". Karena, kalau kita menulis dan edit dilakukan secara bersamaan maka kita tak akan nulis-nulis.  

     Tokoh-tokoh yang menulis.
     Sebagai motifasi, banyak tokoh dan Ulama' yang menulis. Walaupun profesinya tidak penulis. Mulai dari Cak Nun, Gus Mus, Gus Dur, Pak Habibie, Bung Karno, Buya Hamka, Mbah KH. Hasyim Asy'ari, Imam Ghazaly, Imam Suyuti, Imam Syafi'i, dll.(bisa dibayangkan kebanyakan 'Ulama itu menulis, bahkan mereka dikenal sampai sekarang karena menulis)
Aku pernah baca quotes dari founder @madanitraining(kelas menulis online langsung menjadi buku)bahwa menulis tidak harus menjadi profesi. Tapi, apapun profesimu menulislah.

    Penutup    
    Yang terpenting, banyaklah membaca dan menulis mulai dari sekarang. Mempelajari ilmu dan pengalaman penulis besar itu penting. Tapi, untuk apa kalau kita mempelajari kiat- kiat menulis tapi kita tidak mulai menulis? Selalu membaca dan menulis disertai dengan semangat dan tekad yang kuat. Dan, selalu belajar kapada penulis-penulis hebat.
 
     Agar tak lupa, catatlah kesimpulan atau dengan bentuk mind map agar lebih mudah untuk dilihat dan diingat.

    Selamat mencoba dan semoga sukses!

                      
                            Jepara, 10 Maret 2021                  

   

Cttn : Saran sangat dibutuhkan untuk penulis abal-abal ini.