Blog pendidikan

Rabu, 28 Desember 2022

Makna Lagu “Sebelum Cahaya” Dari Sudut Pandang Pribadi

 

 


*Note: Bacalah dengan mendengarkan lagunya.

Ku teringat hati yang bertabur mimpi                   Ke mana kau pergi, cinta?         

Perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri        Kuatkanlah hati, cinta

Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja
Yang menemanimu sebelum cahaya
Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra
Yang 'kan membelaimu, cinta

Kekuatan hati yang berpegang janji
Genggamlah tanganku, cinta
Ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri
Temani hatimu, cinta

Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja
Yang menemanimu sebelum cahaya
Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra
Yang 'kan membelaimu, cinta

Ku teringat hati yang bertabur mimpi
Ke mana kau pergi, cinta?
Perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri
Kuatkanlah hati, cinta

Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja
Yang menemanimu sebelum cahaya
Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra
Yang 'kan membelaimu, cinta

Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja
Yang menemanimu sebelum cahaya
Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra
Yang 'kan membelaimu, cinta

Kan membelaimu, cinta

                                       #

Sebelumnya, saya adalah seorang yang suka mendengarkan musik. Karena ketika saya mendengarkan musik, apalagi ketika membaca buku maupun menulis-tentu dengan batas selama tidak menggangu konsentrasi- akan cenderung lebih bersemangat lagi.

Termasuk lagu yang saya sukai adalah lag-lagu milik letto. Ketika saya mendengarkan lagu milik letto yang kebanyakan memiliki makna tersirat seperti puisi, apalagi penyanyinya adalah seorang yang intelektual dan pemikir handal, membuat saya bersemangat untuk belajar- karena memang itulah fungsi hidup saya di dunia selain menyembah Allah tentunya.

                                  # 

[Ku teringat hati yang bertabur mimpi 

Ku teringat dengan sejumlah impian-impian besar yang sedang ku perjuangkan. Aku yang saat itu sedang merasakan betapa memang beratnya berjuang mencapai impian-impian itu. Dan saat itulah aku merasakan, benarlah orang yang berkata lebih baik bersakit-sakit di masa muda daripada bersakit-sakit di masa tua. Artinya, untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik daripada masa sekarang adalah harus mau bekerja keras dan bersusah payah di masa muda. Tiada kemulyaan dan keindahan di akhir yang diraih dengan bermalas-malasan. Mumpung di masa ini adalah masa dimana fisik dan pikiran sedang bagus. 

[Ke mana kau pergi, cinta?]

Mengingatkan kepadaku jikalau semua yang kamu impikan dan cita-citakan itu untuk apa? Apakah untuk hal duniawi atau ukhrowi? Apakah yang kamu kejar-kejar hanya untuk dirimu sendiri atau untuk kemanfaatan banyak orang? Ketika bermimpi, pastikan mimpi itu baik dan akan lebih baik lagi kalau impian itu adalah yang bermanfaat kepada banyak orang dan rakyat lemah. Juga kepada agama maupun negara.

[Perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri] 

Entah mengapa, seakan-akan lagu ini adalah pesan dari Allah untukku, aku yakin itu. Banyak diantara lirik yang seakan memberi jawaban, pengingat dan penyemangat dari Allah untukku setelah apa yang aku rasakan dan aku panjatkan doa sebelumnya. Seakan meneguhkanku kalau kamu bisa berjuang sendiri(tentu kesendirian yang dimaksud adalah kesendirian tanpa makhluq-dengan Allah).

Tiada yang melirik kita ketika kita belum apa-apa dan masih dalam keadaan rempeyek. Orang-orang akan melirik kita ketika kita nampak kesuksesannya. Sebagus dan semulya apapun pikiran dan impian visionermu, orang jarang sekali yang mau membantu bekerja sama. Apalagi kamu adalah anak muda ingusan yang belum pasti bakat dan keahliannya. Mereka tidak mau menanggung resiko.

Dan memang, aku tidak bisa berharap lebih kepada siapapun. Manusia hanya memberi bantuan sedikit-sedikit. Aku tidak bisa meminta pertolongan lebih kepada kakakku, aku tidak bisa meminta tolong lebih kepada orangtuaku apalagi kepada teman. Aku juga tidak mau apabila aku kecewa dan membenci mereka karena mereka menolak membantuku. Aku harus berjuang sendiri.

[Kuatkanlah hati, cinta]

Setelah kamu sadar bahwa kamu hanya bisa berjuang sendiri. Dalam hatiku meneguhkan: kamu bisa!! Kamu bisa!! Aku harus selalu berpikir positif dan yakin bisa mencapainya, Karena memang itulah bekal agar tidak gampang menyerah. 

[Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja
Yang menemanimu sebelum cahaya]
[Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra
Yang 'kan membelaimu, cinta]

Menandakan bahwa alam ini akan menjadi saksi bisu perjuanganmu. Saksi bisu kesendirianmu disaat  kamu belum menjadi apa-apa. Di saat kamu belum bisa berbuat manfaat luas kepada siapapun dan apapun yang yang menjadi harapanmu.

[Kekuatan hati yang berpegang janji] 

Aku kuatkan hati dan tekadku untuk mengejar impian. Aku kuatkan tekad untuk tidak melakukan suatu hal itu sebelum impian itu terjadi. Dan aku akan memikirkan cara untuk itu. Aku kuatkan keyakinan hati kalau itu pasti akan tercapai.

[Genggamlah tanganku, cinta
Ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri
Temani hatimu, cinta]

Allah yang akan menuntunku. Allah yang akan menemaniku di setiap waktu dan proses perjuangan. Dan Allah tidak akan membiarkan hambanya sendirian untuk impian yang baik. Ya, Allah akan menemaniku dengan cintanya kepadaku. Sesuai kadar cintaku kepada-Nya, bahkan lebih.



Kudus, 28 desember 2022.

Jumat, 29 Juli 2022

Sekedar Curhatan Malam

 

Malam itu, di @kv estu, saya sedang menyendiri-melakukan kebiasaan yang saya sukai. Menulis dan mendengarkan musik. Bagaimana mendengarkan musik itu bisa membuat mood dan lebih semangat dalam menulis. Ditambah lagi ada kopi di sisiku dan rokok sebagai pelengkap kopi itu. Aku bersukur karena aku bisa mendapat kebahagiaan dengan hal positif. Dan ketika itu yang terjadi, rasanya ingin sekali hanya fokus kepada ilmu-ilmu. Tak ada lagi rasa ingin berpacaran dan menikah muda walaupun banyak godaan di luar sana.

Memang rasa bosan, malas, stres, dan down bisa terjadi. Dan terkadang, di situlah muncul pikiran kalau ingin mempunyai sosok yang bisa membuatku semangat dalam menjalani hidup. Sosok yang bisa membuatku semangat dalam berjuang. Yang bisa membuatku bangkit ketika jatuh. Dan yang terpenting bisa menjadi partner dalam berjuang bersama. Tapi di saat yang sama, aku berpikir, bagaimana kalau pasangan itu sendiri malah menjadi penghalang dan membelokkanku dari jalan perjuangan?

Seribu satu hal yang ingin dicapai. Sebanyak itu pulalah semangat harus berkobar. Memang sekarang tak ada jihad melawan penjajah, tapi lebih dari itu, jihad melawan kebodohan dan mengejar semua impian adalah jihad seorang pemuda berjiwa besar masa kini. Tak ada kata merdeka atau mati. Tapi, bersusah -susah sekarang atau bersusah-susah nanti. Oh, tunggu. Sebenarnya tiada susah dalam pikiran para pejuang. Mereka menikmati perjuangan sebagaimana para pemalas menikmati kemalasannya.

Berbicara mengenai impian, semoga semua impianku tercapai. Sebagai anak laki-laki di keluargaku, aku bertekad untuk menjadi semacam pahlawan dan pembeda yang membawa banyak perubahan. Nama Haidar yang berarti singa seolah menunjukkan bahwa kamu harus berjiwa pejuang dan pekerja keras. Yang tak kenal rasa takut dan mundur. Ada banyak cita-cita yang harus ditaklukkan. Dan sebanyak itu pula manusia yang harus mendapat kemanfaatan.

Dan biarlah impian itu aku dan Tuhan yang tahu. Saatnya kembali untuk beristirahat. Dan mempersiapkan hari esok untuk bertempur kembali, dengan semangat yang menggelora. Semoga saja.


Selasa, 07 Juni 2022

Lembaran baru, tantangan baru, dimulai!

    Senin tanggal 30 Mei 2022 adalah hari di mana aku meninggalkan pondok tercinta untuk melanjutkan rihlah belajar di MUSYQ. tulisan ini akan menjadi pengingatku dalam mengarungi hari-hari saat aku di MUSYQ. Dulu, saat masih di pusat, aku dan kawan-kawan saling menanyai kemana kelak setelah mondok di sini. kebanyakan mereka menjawab dengan jawaban yang membuatku terpacu. Bagaimana tidak? rata-rata mereka melanjutkan di pesantren besar. Seperti di Ploso, Sarang, Pakis, Lirboyo, bahkan ada yang melanjutkan di Yaman. Aku bersukur karena aku berada di antara orang yang mempunyai semangat dalam menuntu ilmu. Untuk itulah, aku harus bisa seperti mereka. Aku bertekad untuk tidak boleh kalah dari mereka. Bahkan harus bisa melebihi mereka. Bukankah berlomba-lomba dalam kebaikan itu baik?

     Secara ilmu agama dan tempatnya, memang tempat mereka lebih mendukung. Bukan apa-apa, itu memang karena di sini posisi saya berbeda dengan mereka. Walaupun di sini ada pengajian kitab, tapi aku bebas mau ikut atau tidak. Aku cenderung bebas tanpa terikat aturan. Itu karena statusku di sini adalah ngabdi. Itu mengartikan bahwa berhasilnya aku di sini tergantung bisa atau tidak aku mengatur diri. Itu tentu lebih berat daripada di tempat yang aturan dan kewajiban dalam mengaji sudah jelas. 

    Sedangkan mereka, di samping mereka ada aturan wajib mengaji, mereka berada di antara orang-orang yang memang berniat mendalami ilmu. Dan itu sangat mendukung bagi seseorang yang sedang menuntut ilmu.Tapi aku bersukur. Karena di sini, aku bisa mengabdi kepada masyayikh. Aku akan ada banyak waktu dan mendekat kepada guru-guruku. Aku akan memanfaatkan semaksimal mungkin untuk mengabdi kepada guru-guruku. Bagaimanapun, mengabdi itu penting agar ilmu yang kita dapatkan menjadi berkah. Selain itu, aku juga bisa belajar bagaimana mengurus santri, mendidiknya, dan berorganisasi. 

    Dalam kebebasan belajar, memang ada sisi baiknya. Yaitu kita bisa bebas mengekspor potensi diri. Tapi kebebasan di sini bisa membuatku terlena pada dunia. Bisa jadi, apabila aku tidak bisa mengendalikan diri, bisa-bisa aku lupa dengan tujuan awal. Untuk itulah, semoga tulisan ini bisa mengingatkanku kembali, bahwasanya kau dulu pernah bertekad kuat untuk tidak boleh kalah dari teman-teman. Jangan sampai kau malah tambah kalah oleh mereka. Mereka sekarang sudah belajar mempeng di pesantren masing-masing. Apakah kelak kau mau saat reuni malu karena mereka sudah alim-alim sedangkan kau menjadi hina karena telah terpikat oleh gemerlap dunia? yang sifatnya sementara? 

     Untuk itulah, agar tidak terpikat dengan dunia, aku harus menyusun jadwal dan rencana ke depan dengan menyibukkan diri dengan belajar dan berada di lingkungan orang yang semangat belajar. Dan itu harus menjadi kenyataan. Di saat malas, aku harus ingat kalau mereka sedang belajar dan berdiskusi dengan temannya sesama santri. Maka, pantaskan aku berleha-leha padahal dulu kau sangat tidak mau kalah dengan mereka?