Blog pendidikan

Kamis, 10 April 2025

 

1. Kesalahan Berpikir: “Ilmu Umum Nggak Penting, nggak dibawa ke akhirat, Belajar Ilmu Agama Saja!”

Bagi masyarakat awam, terkadang kita mendengar tetangga atau orang lain yang mengatakan,”ilmu umum kok ditelateni.” Atau, “ilmu umum iku nggak penting, gak digowo nek akhirat” lalu dengan menambahi,”seng penting iku ilmu agama wae, seng digowo nek akhirat.” Ini adalah salah satu contoh kesalahan berpikir atau mindset masyarakat yang seharusnya kita hilangkan. Berikut penjelasannya:

Di dalam Al-Quran telah dipenuhi dengan ayat ayat untuk mecari ilmu.  Dan itu tidak dibatasi dengan ilmu agama saja. Akan tetapi, masyarakat masih banyak yang membatasinya dan memandang sebelah mata orang yang belajar ilmu umum atau non agama.

Ada beberapa referensi dan pendapat untuk memberikan nur bagi mereka yang berpikiran seperti tadi.

Pertama, guru saya di pesantren pernah mengatakan bahwa apapun yang diniatkan untuk Allah maka menjadi amal ibadah/akhirat. Dan apapun yang diniatkan tidak untuk Allah maka tidak menjadi amal ibadah. Artinya, walaupun kita belajar agama, dakwah dimana-mana, ngajar fiqih, misalnya, tapi niatnya untuk popularitas semata, ingin dikenal manusia,  membodohi orang lain, maka jadinya tidak menjadi ibadah atau amal akhirat tapi amal dunia. Dan walaupun sesorang belajar ilmu umum, politik, bisnis, olahraga, sains, dll. akan tetapi mereka menggunakan ilmu atau keahlian itu untuk kebaikan, dakwah atau sesuatu karena Allah maka menjadi amal ibadah dan bisa dibawa sebagai amal akhirat.

Saya tidak mengatakan bahwa ilmu agama tidak penting. Akan tetapi kita tetap belajar agama, dengan tidak mengolok orang lain yang mau mendalami ilmu umum. Ajaran islam tidaklah kaku. Dan orang islam harus saling melengkapi.

Kedua, Prof. Nasarruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal pernah berkata,”Ilmu agama dan ilmu umum itu sama-sama penting.” Maka, pantaskah kita manusia biasa sinis terhadap ilmu umum sedangkan seorang yang ‘alim berkata seperti di atas?

Ketiga, Gus Mus juga pernah berkata yang kurang lebih artinya seperti Prof. Nasarruddin Umar, ”Tidak ada dikotomi antara ilmu agama dengan ilmu umum.”

Pemahaman yang memisahkan ilmu umum dengan ilmu agama dan mengatakan bahwa ilmu umum itu tidak penting menyebabkan seorang penganutnya meninggalkan ilmu pengetahuan, menjadi primitive dan ketinggalan zaman. Mereka sama saja menyempitkan bahkan menutup akses untuk menuntut ilmu.

2. Pentingnya Dialog Interaktif Antara Guru dan Murid

Pernah suatu hari penulis membaca tulisan dari Buya Husein Muhammad, mengenai pengalaman beliau bertemu dengan Dr. Ahmad Munjid, istrinya dan beberapa orang yang lain. Dalam pertemuan itu, beliau menanyakan mengenai bagaimana model atau tradisi belajar di Amerika. Dan yang ditanya menjawab kira-kira begini, ”Model pendidikan di barat dilakukan melalui proses dialektika intelektual. Murid diajak untuk bertanya dan menjawab mengapa? Pada setiap hal termasuk dalam isu-isu keagamaan. Guru tak mengdoktrin dan mengklaim kebenaran sendiri, itu dipraktekkan sejak dini.”

Respon Buya husein: “Wah, ternyata berbeda dengan tradisi di timur, ya. Itu yang disebut sebagai tradisi intelektual. Ia selalu mempertanyakan: Mengapa dan bagaimana. Sementara tradisi fiqih atau yang sering disebut syariah mempercayai suatu diktum (apa). Ini karena mereka meyakini sepenuhnya ketentuan tekstual atau membenarkan apa adanya bunyi teks keagamaan itu.”

Dalam tulisannya, beliau berpikir, ”Ajaran yang disampaikan secara doktriner tentu akan menciptakan keterbatasan pengetahuan diri. Kondisi ini berpotensi melahirkan sikap intoleran.” Tulis Buya Husein dalam caption postingan Instagram.

Respon penulis: Telak, itu menjawab dan mengukuhkan atas apa yang selama ini penulis kurang setujui mengenai beberapa model pembelajaran di lembaga pesantren maupun formal di Indonesia. Diantaranya: Dalam dunia pesantren, memang akhlak sangat diutamakan, akan tetapi yang menjadi kesalahpahaman adalah ketika seorang murid yang selalu bertanya dianggap sebagai perilaku tidak sopan, karena selalu “membantah” pendapat seorang guru. Padahal itu masih dalam konteks proses pembelajaran, bukan pada konteks membantah titah seorang guru. Masyarakat kita masih banyak yang mendidik murid atau anak dengan mendoktrinisasi dan memaksa dengan sepihak tanpa adanya komunikasi atau mengajak si murid dan si anak berdiskusi.

Ketika mengaji bandongan, entah mengapa tidak ada sesi pertayaan dan dialog interaktif setelah pengajian selesai (?) Bukankah itu lebih baik? Pertama, memberikan kesempatan dan mendorong  santri untuk lebih memahami tentang isi dari pengajian. Kedua, meminimalisir terjadinya kesalah-pahaman atau ketidak-sinkronan antara pemahaman murid dengan apa yang disampaikan oleh guru. Ketiga, melatih  mental santri dalam menyampaikan uraian masalah. keempat, melatih berpikir kritis seorang santri, karena bisa saja pertanyaan tersebut nantinya berada di luar prediksi atau dalam kata lain, belum terbesit sebelumnya di benak sang guru. Selain itu, sebenarnya tidak ada kata “tidak sopan” dalam membantah argumen seorang guru, selama cara penyampaian dan tujuannya benar. Bukankah Imam Syafi’i juga pernah membantah argumen Imam Malik?

3. Kata Teman Saya: “Kalau Bermimpi Itu, Ya, Lihat Posisimu Sekarang Juga!”

Pernah suatu hari saya berdiskusi dengan seorang teman di pesantren mengenai impian. Teman saya mengatakan kurang lebih seperti ini, “Kalau bermimpi itu yang masuk akal. Lihat keadaanmu sekarang (posisi saat itu) juga. Jangan bermimpi yang kita itu tidak mampu.” Dalam hati saya berkata, ”Dia mengatakan seperti ini karena dia melihat keadaan saya sekarang dan tahu apa yang saya impikan terlalu besar bagi posisi saya saat itu. Seakan tak mungkin tercapai.”

Saya tidak setuju dengan apa yang teman saya katakan. Karena bagi saya, tidak disebut mimpi kalau kita mudah untuk menggapainya. Nyatanya, banyak orang besar yang lahir dari ide-ide gila, dimana ide-ide gila tersebut seringkali dicibir dan dipandang sebelah mata.

Coba kita cari sejarah orang-orang besar. Kebanyakan mereka bisa mencapai puncak kesuksesannya adalah berawal dari keadaaan mereka saat itu yang mungkin saja dalam titik terendah dan mimpi mereka di masa depan untuk menjadi yang lebih baik. Seseorang tidak akan tumbuh menjadi besar dan hebat kalau bermimpi saja tidak berani. Ketika Rosulullah mengatakan bahwa kelak konstantinopel akan ditaklukkan oleh Islam. Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya. Dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya. Kemudian para sahabat dan generasi setelahnya memimpikan untuk menaklukkannya. Dan pada tahun 1453 M. dimana kekhalifahan turki utsmany yang pada saat  itu dipimpin oleh Muhammad Al-fatih, bocah 21 tahun. Bayangkan saja, seorang raja berumur yang tergolong sangat muda memimpin sebuah pemerintahan besar. Tapi, apakah dengan umur yang sangat belia itu beliau tidak bisa mencapai suatu impian besar yang didambakan semua para pemimpin Islam? Nyatanya sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa taklukknya Konstannipol berada di tangan pemuda itu. Tapi apakah kita tidak mengambil pelajaran dari beliau bagaimana cara Konstantinopel bisa takluk? Ya, semua berawal dari mimpi dan rencana yang gila. Dalam sejarahnya, pada saat beliau berencana membawa kapalnya untuk ‘mendaki’ bukit sebagai strategi, kira-kira menteri atau penasehatnya merenspon bahwa ini adalah rencana gila, yang tidak mungkin dilakukan. Lalu, Muhammad al-Fatih mengatakan, “Selama kalian belum mati karena melakukannya, maka tidak ada yang tidak mungkin.” Dan pada akhirnya, mereka berhasil dan Konstantinopel berhasil ditakukkan. Mimpi itu bisa dicapainya dan membungkam perkataan orang yang mengatakan rencana itu gila.

Orang yang berkata bahwa bermimpi harus melihat keadaan atau posisi diri kita, sebenarnya belum bisa memahami tentang arti suatu impian dan belum tahu bagaimana mewujudkannya.

Maudy Ayunda pernah berkata kurang lebih begini, “ketika mimpi ‘terlalu’ besar, kita dapat mensiasatinya dengan membuat step by step atau langkah-langkah kecil yang harus kita capai sebagai jalan menuju ke impian besar. Dengan begitu, impian besar akan kita capai dengan mudah...

 

“Bahwa ketika kita mempuyai mimpi yang besar, maka pecahlah (konseplah) mimpi itu menjadi “mimpi-mimpi” yang tersusun rapi yang akan kita lewati step by step, yang itu akan mengantarkan kita menuju mimpi besar tadi. Maka ketika sudah dikonsep sedemikian rupa dan dicapai sedikit demi sedikit, step by step, maka kita akan mudah untuk menggapainya.” Seorang akan berkata mustahil ketika ia hanya memandang posisi saat itu dan impian besarnya saja. Tidak berpikir bagaimana cara mewujudkannya. Selama kita mau berusaha keras dan berdo’a kepada Allah maka tidak ada yang tidak mungkin selama Allah berada di pihak kita.

4. Orang Zaman Dulu Vs Orang Zaman Sekarang dalam Ilmu Pengetahuan

Mengapa orang zaman dulu lebih hebat dalam keilmuan dari pada orang zaman sekarang, padahal kita hidup di zaman yang sangat mudah dalam mengakses ilmu pengetahuan dan informasi dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang ada? Itu adalah pertanyaan yang ada dalam pikiran saya waktu itu dan mungkin juga pertanyaan yang ada di dalam pikiran banyak orang.

Setelah sekian lama merenunginya, aku baru mendapatkan jawabannya. Begini, ulama’ zaman dulu itu hidup dalam masa keemasan islam, di mana peradaban islam waktu itu sedang maju-majunya, khusus-nya dalam bidang ilmu pengetahuan. Sedangkan di zaman sekarang, walaupun akses pengetahuan dan informasi bisa di dapat dengan mudah dan cepat dengan bantuan teknologi yang semakin maju. Akan tetapi, peradaban islam di zaman sekarang terhitung mengalami kemunduran.

Mengapa? Karena dengan semakin berkembangnya teknologi tersebut, banyak sekali perubahan dan hal baru yang ada dalam aktifitas manusia. Tentu ada positif dan negatif yang menyertainya. Sisi positifnya kegiatan dan pekerjaan manusia bisa dilakukan lebih mudah, komunikasi antar manusia bisa dilakukan tanpa mengenal jarak, akses informasi bisa mudah didapatkan dan masih banyak lagi. Tapi, di samping itu, negatifnya juga tidak kalah banyak, bersamaan dengan pesatnya perkembangan teknologi tadi, muncullah tantangan dan cobaan baru bagi pelajar kita seperti mudahnya menemukan propaganda, hiburan, hoax, ujaran kebencian, over information tanpa filter, lingkungan di dunia maya yang buruk, kemaksiatan  dan berbagai banyak cobaan lainnya.

Berbeda dengan orang pada zaman dahulu yang cobaannya hanya sedikit, pelajar muslim pada zaman sekarang tantangan dan cobaannya lebih kompleks, maka apabila tidak bisa mengambil sikap bijak, mengatur dan membatasi diri, sebesar dan semudah apapun fasilitas pengetahuan dan teknologi tidak akan memberi faedah bagi dirinya dan sekitarnya. Justru teknologi itu akan menghancurkannya. Apalagi, ada sekelompok manusia jahat yang ingin menghancurkan umat islam lewat teknologi. Dan kacaunya, orang islam itu sendiri tidak menyadari.

“Tantangan dan cobaan terberat pelajar zaman sekarang adalah lingkungan yang buruk(nyata & maya), kemaksiatan, propaganda, hoax, ujaran kebencian, dsb. yang sangat mudah didapatkan. Dan itu berkumpul dalam satu: Media sosial. Maka, solusinya adalah bagaimana agar kita bisa menyedikitkan penggunaan media social dan atau menggunakannya dengan bijak. Konsep mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik perlu kita terapkan dengan bijak.”

5. Metode Belajar Ala Kitab Ittihafus sadath Syarah Kitab Ihya’ Ulumuddin

Ada dua tips menambah ilmu menurut Kitab Ittihafu Assadath Syarah Kitab Ihya’ Ulumuddin juz 1 S. 86:

1. Diajarkan.

2. Diamalkan.

Berikut penulis jabarkan penjelasan sebagai tambahan ilmu mengenai dua poin di atas:

Pertama, diajarkan. Sebelumnya, ada pertanyaan mendasar yang biasa terbesit dalam pikiran kita. Apakah kita sebagai pelajar lebih baik fokus saja dengan mununtut ilmu sampai umur 30 tahun atau lebih baik disamping menuntut ilmu kita juga sesekali harus mengajarkan tentang apa yang kita pelajari?

Saya tidak akan menjawabnya, tapi saya akan memaparkan mengapa walaupun kita masih dalam proses menuntut ilmu kita juga perlu mangajarkan apa yang kita pelajari. Sebenarnya (merujuk pada tips menambah ilmu di atas), mengajar adalah bagian dari menuntut ilmu. Ketika kita mengajarkan, kita akan menuntut diri kita untuk membuka kembali dan mengulang-ulang pelajaran yang telah dipelajari dengan matang, dan terkadang menambah referensi sebagai pelengkap pelajaran yang sebelumnya kita belum mengetahuinya. Sehingga, disitulah letak dorongan untuk menambah ilmu. Pengalaman penulis, walaupun masih dalam tahap menuntut ilmu, sering ketika mengajarkan, pengetahuan penulis menjadi semakin matang. Dan perlu diperhatikan juga, bahwa terkadang ilmu ataupun pelajaran itu muncul ketika diajarkan atau disampaikan.

Akan tetapi, tetap menjadi pertimbangan ketika kita hendak mau mengajarkan. Apa yang kita pelajari dan apa yang hendak kita ajarkan? Jangan sampai kita mengajarkan ilmu yang belum benar-benar kita pahami dan kuasai, dan jangan sampai kita mengajarkan sesuatu yang apabila ketika salah akan menimbulkan kesalahan yang besar dan fatal. Akan lebih baik ketika hal itu diajarkan dengan mendapat restu dan ijazah dari sang guru. Khususnya dalam hal ini adalah dasar agama.

Kedua, diamalkan. Guru saya di pesantren sering mendawuhkan kepada santri-santrinya dengan hadist yang artinya seperti ini,”Barangsiapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui, maka Allah akan memberikan ilmu yang dia belum tahu sebelumnya.” Dalam pandangan penulis, ilmu (tidak semua) memang sudah seharusnya diamalkan. Karena rugi, ketika ilmu terus diajarkan ila yaumil qiyaamah, tapi -katakanlah misalnya- tidak ada yang mengamalkannya. Memang ilmu itu masih ada, akan tetapi untuk apa ilmu itu ada tanpa ada yang mengamalkannya? Bukankah ilmu dipelajari agar memperbaiki perilaku?

6. Pentingnya Komunitas Dalam Membangun Peradaban

Ada pepatah yang mengatakan “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”

Pernah suatu saat saya berpikir, andaikan saja di daerah saya ada suatu komunitas yang di situ menjadi wadah para pelajar atau santri kitab agar melestarikan dan meramaikan pengkajian berbagai karya tulis para ‘ulama salaf. Mereka akan saling mengenal satu sama lain, saling berdiskusi, bertukar pendapat dan bersilaturahmi dan terkadang mengundang para pengasuh mereka sebagai oase para santri yang haus akan keberkahan dari para guru dan ‘ulama.

Mengapa? Karena lingkungan ketika di pesantren dengan ketika sudah terjun dalam masyarakat pasti akan berbeda. Ketika sudah di masyarakat, tidak ada lagi teman-teman belajar, teman diskusi ilmu, gasak-gasakan tanpa ada yang baper, saling menasehati, dan berganti dengan orang-orang yang awam agama dan spiritual, abangan, dll.  Ketika sudah di masyarakat lingkungan kita sudah extrim. Banyak kemaksiatan yang tidak kita temui di pesantren. Apalagi di zaman akhir seperti ini.

Maka, komunitas yang menyatukan para alumni pesantren dengan kajian keilmuan karya tulis para ‘ulama salaf menjadi penting untuk menjaga tradisi keilmuan, akhlaq dan perilaku santri di dunia luar. Karena santri akan benar-benar diuji kesantriannya saat sudah di dunia luar.

Berbicara mengenai komunitas sama dengan berbicara mengenai circle dalam bahasa anak zaman sekarang. Suatu saat, Lora Husein Basyaiban bercerita, pernah menemui seorang perempuan memakai singlet. Perempuan tadi lewat di depan lora Husein dengan gaya sopan seperti santri. Bersikap seperti itu, sang Lora kaget, mengapa perempuan berpakai seperti itu tapi lagaknya seperti santri. Sang Lora pun bertanya kepada perempuan itu, setelah ditelisik lebih lanjut, ternyata sang wanita itu dulu adalah seorang santri, bahkan hafal kitab alfiyah dan tau isi kitab fiqih yang biasa dipelajari di pesantren. lantas, apa yang menjadi penyebab wanita itu berubah? Ternyata circle. Circle / lingkungannyalah yang membuat keadaannya berubah.

Maka, ini menjadi pelajaran penting bahwa circle atau lingkungan kita itu sangat-sangat mempengaruhi diri kita. Seperti dawuh seorang Ulama’, ”Barangsiapa yang sering berkumpul dengan orang kaya, Allah akan membuatnya semakin gila harta. Siapa yang sering berkumpul dengan orang miskin, Allah akan membuatnya semakin mudah menerima. Siapa yang sering berkumpul dengan wanita, Allah akan membuatnya semakin bernafsu birahi. Siapa yang sering berkumpul dengan penguasa, Allah akan membuatnya semakin angkuh hati. Siapa yang sering berkumpul dengan orang fasiq, Allah akan membuatnya semakin berani berbuat dosa. Siapa yang sering berkumpul dengan Ulama’, Allah akan membuatnya semakin berilmu dan beramal, Siapa yang sering berkumpul dengan orang soleh, Allah akan membuatnya semakin semangat melakukan kebaikan.”

Pada dasarnya, kita akan menjadi apa yang selalu disekeliling kita. Semoga kita dijauhkan dengan lingkungan dan pertemanan yang buruk dan diberikan pertemanan dan lingkungan yang mengantarkan kita kepada ketaatan, ilmu dan amal ibadah.

7. Filsafat Stoicisme: Filsafat Yang Islami

Stigma masyarakat awam atas filsafat pada umumnya adalah filsafat itu bahaya, menyesatkan, haram, bertolak belakang dengan ajaran agama, dll. Pada akhirnya, masyarakat awam menjauhi filsafat. Padahal, sebenarnya tidak semuanya pelajaran filsafat bertolak belakang dengan ajaran agama.

Filsafat sendiri adalah ilmu berpikir atau logika yang menjadi induk semua ilmu. Filsafat memiliki banyak cabang. Tokohnya pun juga bermacam-macam. Bahkan dari kalangan ilmuwan muslim banyak yang ahli filsafat, seperti ulama besar Imam al-Ghazaly, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Ibnu Kholdun, dll.

Ada satu cabang filsafat yang pernah saya baca dan langsung memberi kesan pada saya bahwa filsafat ini adalah filsafat islami(termasuk filsafat yang ajarannya sesuai dengan ajaran agama Islam): Stoicisme.

Saya akan memaparkan 2 hal yang termasuk ajaran Filsafat Stoic:

1. Dikotomi kendali. Kita harus menyadari bahwa dalam kehidupan diri kita, ada hal yang bisa kita kendalikan atau kontrol dan ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Ini dinamakan dikotomi kendali. Maka, artinya, kita hanya bisa mengontrol apa yang dalam kendali kita. Dan apabila kita fokus dan mengatur apa yang tidak bisa kita kendalikan, maka kekecewaan akan kita rasakan.

Misal, yang bisa kita kendalikan: pikiran, keinginan, harapan, persepsi, dan segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita sendiri.

Yang tidak bisa kita kendalikan: opini dan persepsi orang lain, perilaku oranglain, musibah yang datang, penyakit, kematian, dan masih banyak lagi.

Saya akan memberikan contoh yang selaras dengan ajaran agama. Suatu hari keluarga kita mendapatkan musibah dengan salah satu anggota yang kita cintai meninggal. Sebagai orang awam, bisa jadi kita akan sangat bersedih berhari-hari sampai tidak makan atau mungkin sampai tidak terima atas taqdir yang menimpa kita. Tapi, bagi yang menerapkan stoic, ia tau bahwa ia tidak bisa mengendalikan keluarganya tetap ada atau meninggal. Toh, juga suatu saat mereka memang akan meninggal. Yang bisa lakukan adalah mengendalikan dirinya untuk bersikap tenang dan bersedih sewajarnya. Dalam hal ini, stoic membantu kita untuk mudah menerima taqdir dan tidak berlebihan dalam menangisi keluarga yang meninggal.

Contoh kedua: Ketika ada sikap oranglain (katakanlah: menggunjing, mencemooh, atau menfitnah) yang pada umumnya mungkin membuat kita marah. Dalam stoic, gunjingan atau fitnah oranglain adalah di luar kendali kita. Kita sepenuhnya tidak bisa mengatur oranglain untuk tidak menfitnah atau menggunjing kita. Tapi kita bisa mengatur diri, untuk memilih menyikapinya dengan tenang, diam, tersenyum atau marah. Karena sebenarnya di luar kendali kita seperti fitnah, cemooh, dll bersifat netral. Reaksi, persepsi dan pikiran yang membuat kita bersikap positif ataupun negatif. Itu semua dalam kendali kita.

Contoh di atas menggambarkan bahwa dikotomi kendali dalam ajaran stoic  itu selaras bahkan membantu kita untuk menerapkan ajaran islam seperti tenang dalam setiap kondisi, sabar, tidak gampang membenci atau pemarah, dll.

2. Sederhana dan latihan menderita

Stoic mengajarkan kesederhanaaan dalam hidup. Dengan tidak mengikat dan menilai segala hal dengan sesuatu yang bersifat material dan juga fokus pada kekayaan batin. Selain itu, stoic mengajarkan untuk mau melatih diri kita menderita(sama dengan ajaran tirakat dan nglatih hawa nafsu dalam ajaran guru kita). “Jika kamu ingin seseorang tidak goyah saat krisis menghantam, latihlah sebelum krisis itu datang,” kata Seneca. Latihan menderita menjadikan diri kita tangguh dan tegar ketika musibah benar benar menimpa kita. Selain itu juga bisa menjadikan kita lebih  mensyukuri nikmat yang telah kita punya.

Ini sesuai dengan apa yang pernah diajarkan Gus Baha mengenai istighna’. Merasa cukup. Kita perlu untuk tidak menggantungkan atau membatasi standar kenikmatan ataupun kebahagian terhadap hal-hal yang mahal. Bahwa kenikmatan hanya didapatkan pada sesuatu yang bersifat material atau benda mahal. Kita bisa merasakan kenikmatan dengan ngopi, rokok dan ngobrol dengan teman. Dan bodoh sekali ketika kita membatasi kenikmatan pada barang-barang mahal apalagi yang tidak kita punyai.

8. Beda Pendapat Saya Dan Sahabat Saya Tentang Motifasi

Ada sedikit cerita tentang diskusi saya dengan sahabat saya yang sebenarnya tingkat kecerdasannya lebih unggul daripada saya. Tapi pada tema kali ini saya lebih unggul. Pernah suatu saat saya bertanya kepada sahabat saya mengenai motifasi. Dia berpendapat kira- kira begini, “Saya nggak suka motifasi, karena motifator-motifator itu belum tentu bisa melakukan apa yang dikatakannya.” Jadi dia mungkin berkesimpulan untuk apa melakukan saran atau motifasi oranglain yang dia sendiri belum tentu bisa atau belum melakukannya. Kalau dalam bahasa jawa, ”lah wong awakmu wae durung ngelakoni kok ngakon-ngakon wong liyo, awakmu dewe lakoni, mari ngunu wei nasehat nek wong liyo.” Mereka bisa jadi pandai berbicara tapi juga sulit ketika melakukannya. Dan mungkin juga, dia berpendapat bahwa motifasi tidak memberikan ilmu. Ia hanya mendorong kita untuk bergerak.

Coba stop dulu, dan berikan pendapat kalian.

Setelah itu, tiba giliran saya berpendapat, ”Kalau saya suka motifasi. Karena pengalaman saya, Lantaran motifasi saya mempunyai impian dan harapan. lantaran motifasi saya bisa rajin dan bekerja keras. Yang itu saya gunakan untuk terus belajar dan mendapatan ilmu. Jadi, ibarat motifasi adalah bahan bakar motor agar motor bisa bergerak. Sebenarnya, saat itu saya sadar mengapa dia hidupnya tampak kurang bersemangat. Sedangkan saya lebih ke ambisius dan penuh semangat. Walaupun kita sama-sama suka ilmu.

Lalu, terkait motifator belum tentu melakukan apa yang dikatakannya, itu tidak menjadi masalah. Karena yang terpenting adalah kita melakukan yang kita cari dari motifasi itu. kita tergerak dan mendapatkan manfaat dari motifasi itu. Kalau kita tidak mau melakukan nasehat yang bernilai positif hanya karena orang yang memberi nasehat belum melakukannya, maka kita terjebak dalam kesalahan berpikir. Justru, diri kita perlu untuk melakukan kebaikan dan mendapatkan manfaat sekalipun itu muncul dari mulut anak kecil.

Menurut saya, sah-sah saja ketika kita suka motifasi- selama tidak over. Jadikanlah motifasi sebagai penggerak diri agar bergerak lebih jauh. Yang keliru menurut saya justru ketika kebanyakan motifasi tapi minim aksi. Pergerakan kita hanya bergantung pada konten motifasi. Jadi, tidak bisa mengalahkan diri sendiri untuk mulai bergerak. Habis waktunya untuk mencari konten-konten motifasi.

Untuk sahabat saya, partner saya berdiskusi, kali ini saya menang, karena saya yang menguasai media :)

9. Refleksi: Pentingnya Khulwah (Menyendiri) Bagi Pelajar Di Zaman Sekarang

Di zaman sekarang, zaman pesatnya teknologi, sangat mudah untuk kita menemukan banyak hal. Informasi, berita, berkomunikasi dengan teman yang jauh, konten-konten dari hiburan sampai ilmu pengetahuan, bahkan kemudahan dan kecanggihan itu dimanfaatkan oknum-oknum jahat untuk menyebarkan virus jahat / negatif, dan masih banyak lagi.

Kita sesekali perlu merenungi hidup yang kita jalani. Sebagai seorang pelajar, apakah jalan yang kita tempuh untuk menuntut ilmu sudah dengan cara yang benar? Dalam arti, apakah kita benar-benar mencurahkan perhatian kita pada ilmu pengetahuan ataukah sebenarnya kita menomerduakan ilmu pengetahuan dari yang lainnya? Atau masih banyak waktu yang terbuang untuk hal tak berguna?  Scroll-scroll media sosial tak jelas sampai lupa waktu,  bahkan untuk maksiat?

Jadi, di sini saya ingin mengajak pencari ilmu semua, khususnya pelajar yang tidak mondok dan seluruh alumni yang sudah tidak menetap di pondok untuk berefleksi diri. Bahwa kita hidup di akhir zaman. Zaman di mana kemaksiatan sangat mudah didapatkan. Hanya dengan membawa handphone dan akses internet, kita bisa mengakses hal apapun tanpa batas. Baik maupun buruk, informatif maupun berita hoax, di internet, hanya diri kita yang bisa mengendalikan. Untuk itulah, tidak seharusnya sebagai santri atau pelajar kita menghabiskan banyak waktu untuk bermain handphone, khususnya media sosial-tanpa ada kepentingan belajar di dalamnya.  Kita harus sadar, bahwa di media sosial, banyak sekali bertebaran konten-konten yang dapat menghalangi atau mengalihkan kita dari menuntut ilmu. Hiburan, konten mesraan, maksiat, wanita yang tak malu berjoget dan masih banyak lagi. Tanpa ada kebutuhan yang jelas alias gabut, kita akan mudah terjebak pada kecanduan bermedia sosial, bahkan menonton gambar dan vidio tak senonoh. Karena itu semua sangat mempengaruhi perkembangan kita dalam menuntut ilmu.

Maka, solusi yang akan saya berikan mengenai permasalahan ini adalah hendaknya sebagai pelajar untuk menyendiri(khulwah) dari hiruk pikuk dunia, dari semua perbuatan yang bisa menghalangi dan menjauhkan kita dari ilmu, dan tentu dari keramaian media sosial juga, untuk fokus pada menuntut ilmu dan memperbaiki hubungan kita dengan Allah. Karena dengan begitu, diri dan pikiran kita akan lebih bisa fokus untuk itu, yang nantinya akan menghasilkan hasil yang lebih maksimal. Jalan inilah yang ditempuh oleh ulama’ zaman dahulu.

Tentu tidak selamanya kita akan menyendiri, karena kita butuh bertemu dengan orang lain, saling berdiskusi, dan bersosial. Tapi berilah waktu tertentu dimana kita harus menyendiri. Romo Kyai saya sendiri, selalu khulwah di setiap 10 hari pertama bulan Muharrom, rajab dan Ramadhan. Gus Baha’ juga mempunyai waktu sendiri di mana waktu tersebut beliau tidak menerima undangan dan dikhususkan untuk santri-santrinya.

Syeikh Fathi Hijazi, Ulama’ Al-Azhar Mesir pernah memberikan wejangan yang intinya, “Pengertian khulwah adalah Sebuah tempat yang jauh dari manusia. Menyendiri ditempat itu. Yaitu seorang hamba, karena ingin selalu bersama tuhannya. Oleh karena itu seorang santri hendaknya ia menyendiri ketika belajar. Kenapa? Karena tidaklah bisa didapat lmu-ilmu di hati seorang santri dan di kepalanya, kecuali ia menyendiri ketika belajar dari semua perkara kecuali Allah SWT. Adapun yang belajar sedangkan di depannya ada televisi, sambil bermain ponsel atau sambil bekerja, orang yang seperti ini mustahil sampai terhadap yang ia harapkan. Belajar membutuhkan kesendirian.” 

10. Gagasan Tentang Pesantren Harus Menjadi Markas Utama Lahirnya Manusia Hebat Yang Berperan Dalam Semua Lini Pengabdian

Pada pandangan kebanyakan orang awam, pesantren adalah tempat belajar agama, yang pelajar di sana dinamakan sebagai santri yang berjibaku dengan kitab kuning, walaupun beberapa ada yang menyediakan sekolah umum. Pesantren menjadi peran utama bagi terjaganya tradisi dan nilai islam yang ada di Indonesia. Pesantren juga mempunyai potensi besar untuk berperan terhadap kemajuan bangsa. Walaupun begitu, masih banyak hal-hal yang perlu dikembangkan atau dimaksimalkan potensinya. Berikut adalah gagasan saya mengenai bagaimana pesantren menjadi markas penting lahirnya tokoh-tokoh yang bisa mengisi berbagai lini pengabdian terhadap negara dan masyarakat:

1.       Pesantren Di Bagi Menjadi 2 Jenis Atau Model.

Model pertama, pesantren salaf-klasik, yang di situ santri lebih dominan untuk mempelajari kitab salaf karya ulama’, mereka dididik untuk menjadi ulama’, kyai atau pendakwah di tengah-tengah masyarakat, dalam hal ini bisa diambil contoh seperti pesantren Lirboyo induk, sarang, ploso, dan semacamya.

Model kedua, pesantren modern. Di pesantren ini, selain mereka mempelajari agama lewat karya Ulama’ salaf, mereka juga mempelajari ilmu umum. Bahkan bisa juga lebih dominan dalam ilmu umumnya. Mereka juga dididik untuk mempelajari teknologi dan mengikuti perkembangan zaman. Ini penting untuk ditekankan, karena ini menjadi bekal agar santri bisa memberikan peran besar pada negara dalam semua lini pengabdian, tidak hanya menjadi seorang agamawan atau pendakwah saja. Dengan begitu, harapannya adalah lahir politisi-politisi, pemimpin daerah, ahli tata negara, wakil rakyat, dosen, dokter, bussinesman, investor, dan sebagainya yang lahir dari rahim pesantren. Maka, pada dasarnya adalah mereka memang hendak belajar atau dididik untuk menjadi politisi, bussinesman, dan lain-lain yang sudah saya sebutkan di atas, cuman mereka dididik dan didasari oleh nilai-nilai Islam, dengan akhlaq dan tujuan yang baik, dan dengan background pesantren.

2.       Memajukan Budaya Literasi Lewat Perpustakaan Pesantren Yang Maju.

Salah satu kekurangan yang dimiliki bangsa ini adalah rendahnya minat baca masyarakatnya. Menurut penelitian dari UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara. Ini menjadi kekurangan besar bangsa yang harus kita kasih solusi. Dan diperparah lagi, dengan minat baca yang rendah itu, justru masyarakat kita mencapai peringkat empat pengguna paling aktif gadget di dunia –tentu juga penggunaan media sosialnya. Maka, yang terjadi adalah mereka menjadi mudah untuk diprofokasi, sasaran hoax atau berita bohong, mereka ibarat “berdiskusi” tentang berbagai macam hal yang di media sosial tanpa mempunyai wawasan yang memadai, mereka tidak mempunyai kecakapan dalam mengontrol, memilih dan memilah mana yang disitu kita harus berbicara dan bersikap bijak dalam menyikapi konten. Waktu mereka bisa akan habis untuk mengkomsumsi konten-konten unfaedah yang mengambil waktu mereka, bahkan sangat mudah untuk dipengaruhi oleh konten-konten negatif yang itu, secara halus akan menghancurkan peradaban dan moral pemudanya.

Maka dari itu, perpustakaan pesantren menjadi tempat yang pas untuk menumbuhkan minat baca masyarakat Indonesia. Melihat, santri tidak bisa sekenanya mengakses gadget dalam lingkungan pesantren. Lalu, bagaimana agar perpustakaan pesantren benar-benar bisa menjadi tempat yang paling digemari oleh para santri untuk belajar dan membaca?  Saya mengambil pelajaran dari zaman ketika peradaban Islam sedang dalam kemajuan dan yang dilakukan oleh negara-negara maju Eropa dengan tradisi membaca yang kuat. Diantaranya adalah, pertama, harus merelakan dana besar yang digunakan untuk menghasilkan buku-buku berkualitas karya anak bangsa atau pun karya asing. Termasuk bangsa Inggris dan Arab.  Kedua, perpustakaan harus menjadi tempat dimana siklus keilmuan dan diskusi ilmiah berada. Ketiga, perpustakaan harus menjadi tempat ternyaman bagi santri untuk belajar dan membaca. Keempat, ada gerakan penerjemahan besar-besaran oleh karya besar berbahasa asing atau mendatangkan buku-buku besar dengan teks aslinya, selama santri sudah dipastikan menguasai bahasa tersebut.

 

Jadi, di atas adalah 2 ide gagasan saya dalam mewujudkan peradaban yang maju lewat rahim pesantren. Tentu tidak mudah untuk mewujudkannya. Dan masih perlu pengembangan-pengembangan atas ide-ide itu. Maka, saya sangat membuka pintu lebar untuk berdiskusi mengenai permasalahan ini demi mewujudkannya peradaban yang maju untuk negara kita tercinta.