1. Kesalahan Berpikir:
“Ilmu Umum Nggak Penting, nggak dibawa ke akhirat, Belajar Ilmu Agama Saja!”
Bagi masyarakat awam, terkadang
kita mendengar tetangga atau orang lain yang mengatakan,”ilmu umum kok
ditelateni.” Atau, “ilmu umum iku nggak penting, gak digowo nek akhirat”
lalu dengan menambahi,”seng penting iku ilmu agama wae, seng digowo nek
akhirat.” Ini adalah salah satu contoh kesalahan berpikir atau mindset
masyarakat yang seharusnya kita hilangkan. Berikut penjelasannya:
Di dalam Al-Quran telah dipenuhi
dengan ayat ayat untuk mecari ilmu. Dan
itu tidak dibatasi dengan ilmu agama saja. Akan tetapi, masyarakat masih banyak
yang membatasinya dan memandang sebelah mata orang yang belajar ilmu umum atau
non agama.
Ada beberapa referensi dan pendapat
untuk memberikan nur bagi mereka yang berpikiran seperti tadi.
Pertama, guru saya di pesantren
pernah mengatakan bahwa apapun yang diniatkan untuk Allah maka menjadi amal
ibadah/akhirat. Dan apapun yang diniatkan tidak untuk Allah maka tidak menjadi
amal ibadah. Artinya, walaupun kita belajar agama, dakwah dimana-mana, ngajar
fiqih, misalnya, tapi niatnya untuk popularitas semata, ingin dikenal manusia, membodohi orang lain, maka jadinya tidak
menjadi ibadah atau amal akhirat tapi amal dunia. Dan walaupun sesorang belajar
ilmu umum, politik, bisnis, olahraga, sains, dll. akan tetapi mereka menggunakan
ilmu atau keahlian itu untuk kebaikan, dakwah atau sesuatu karena Allah maka
menjadi amal ibadah dan bisa dibawa sebagai amal akhirat.
Saya tidak mengatakan bahwa ilmu
agama tidak penting. Akan tetapi kita tetap belajar agama, dengan tidak
mengolok orang lain yang mau mendalami ilmu umum. Ajaran islam tidaklah kaku.
Dan orang islam harus saling melengkapi.
Kedua, Prof. Nasarruddin Umar, Imam
Besar Masjid Istiqlal pernah berkata,”Ilmu agama dan ilmu umum itu sama-sama
penting.” Maka, pantaskah kita manusia biasa sinis terhadap ilmu umum sedangkan
seorang yang ‘alim berkata seperti di atas?
Ketiga, Gus Mus juga pernah
berkata yang kurang lebih artinya seperti Prof. Nasarruddin Umar, ”Tidak ada
dikotomi antara ilmu agama dengan ilmu umum.”
Pemahaman yang memisahkan ilmu umum dengan ilmu agama dan mengatakan bahwa ilmu umum itu tidak penting menyebabkan seorang penganutnya meninggalkan ilmu pengetahuan, menjadi primitive dan ketinggalan zaman. Mereka sama saja menyempitkan bahkan menutup akses untuk menuntut ilmu.
2. Pentingnya Dialog Interaktif
Antara Guru dan Murid
Pernah suatu hari penulis membaca
tulisan dari Buya Husein Muhammad, mengenai pengalaman beliau bertemu dengan
Dr. Ahmad Munjid, istrinya dan beberapa orang yang lain. Dalam pertemuan itu,
beliau menanyakan mengenai bagaimana model atau tradisi belajar di Amerika. Dan
yang ditanya menjawab kira-kira begini, ”Model pendidikan di barat dilakukan
melalui proses dialektika intelektual. Murid diajak untuk bertanya dan menjawab
mengapa? Pada setiap hal termasuk dalam isu-isu keagamaan. Guru tak mengdoktrin
dan mengklaim kebenaran sendiri, itu dipraktekkan sejak dini.”
Respon Buya husein: “Wah,
ternyata berbeda dengan tradisi di timur, ya. Itu yang disebut sebagai tradisi
intelektual. Ia selalu mempertanyakan: Mengapa dan bagaimana. Sementara tradisi
fiqih atau yang sering disebut syariah mempercayai suatu diktum (apa). Ini karena
mereka meyakini sepenuhnya ketentuan tekstual atau membenarkan apa adanya bunyi
teks keagamaan itu.”
Dalam tulisannya, beliau
berpikir, ”Ajaran yang disampaikan secara doktriner tentu akan menciptakan
keterbatasan pengetahuan diri. Kondisi ini berpotensi melahirkan sikap
intoleran.” Tulis Buya Husein dalam caption postingan Instagram.
Respon penulis: Telak, itu
menjawab dan mengukuhkan atas apa yang selama ini penulis kurang setujui
mengenai beberapa model pembelajaran di lembaga pesantren maupun formal di
Indonesia. Diantaranya: Dalam dunia pesantren, memang akhlak sangat diutamakan,
akan tetapi yang menjadi kesalahpahaman adalah ketika seorang murid yang selalu
bertanya dianggap sebagai perilaku tidak sopan, karena selalu “membantah”
pendapat seorang guru. Padahal itu masih dalam konteks proses pembelajaran,
bukan pada konteks membantah titah seorang guru. Masyarakat kita masih banyak
yang mendidik murid atau anak dengan mendoktrinisasi dan memaksa dengan sepihak
tanpa adanya komunikasi atau mengajak si murid dan si anak berdiskusi.
Ketika mengaji bandongan, entah
mengapa tidak ada sesi pertayaan dan dialog interaktif setelah pengajian
selesai (?) Bukankah itu lebih baik? Pertama, memberikan kesempatan dan
mendorong santri untuk lebih memahami
tentang isi dari pengajian. Kedua, meminimalisir terjadinya kesalah-pahaman
atau ketidak-sinkronan antara pemahaman murid dengan apa yang disampaikan oleh
guru. Ketiga, melatih mental santri dalam
menyampaikan uraian masalah. keempat, melatih berpikir kritis seorang santri, karena
bisa saja pertanyaan tersebut nantinya berada di luar prediksi atau dalam kata
lain, belum terbesit sebelumnya di benak sang guru. Selain itu, sebenarnya
tidak ada kata “tidak sopan” dalam membantah argumen seorang guru, selama cara
penyampaian dan tujuannya benar. Bukankah Imam Syafi’i juga pernah membantah
argumen Imam Malik?
3. Kata Teman Saya: “Kalau
Bermimpi Itu, Ya, Lihat Posisimu Sekarang Juga!”
Pernah suatu hari saya berdiskusi
dengan seorang teman di pesantren mengenai impian. Teman saya mengatakan kurang
lebih seperti ini, “Kalau bermimpi itu yang masuk akal. Lihat keadaanmu sekarang
(posisi saat itu) juga. Jangan bermimpi yang kita itu tidak mampu.” Dalam hati
saya berkata, ”Dia mengatakan seperti ini karena dia melihat keadaan saya
sekarang dan tahu apa yang saya impikan terlalu besar bagi posisi saya saat
itu. Seakan tak mungkin tercapai.”
Saya tidak setuju dengan apa yang
teman saya katakan. Karena bagi saya, tidak disebut mimpi kalau kita mudah
untuk menggapainya. Nyatanya, banyak orang besar yang lahir dari ide-ide gila,
dimana ide-ide gila tersebut seringkali dicibir dan dipandang sebelah mata.
Coba kita cari sejarah
orang-orang besar. Kebanyakan mereka bisa mencapai puncak kesuksesannya adalah
berawal dari keadaaan mereka saat itu yang mungkin saja dalam titik terendah dan
mimpi mereka di masa depan untuk menjadi yang lebih baik. Seseorang tidak akan
tumbuh menjadi besar dan hebat kalau bermimpi saja tidak berani. Ketika
Rosulullah mengatakan bahwa kelak konstantinopel akan ditaklukkan oleh Islam.
Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya. Dan sebaik-baik pasukan adalah
pasukannya. Kemudian para sahabat dan generasi setelahnya memimpikan untuk
menaklukkannya. Dan pada tahun 1453 M. dimana kekhalifahan turki utsmany yang
pada saat itu dipimpin oleh Muhammad
Al-fatih, bocah 21 tahun. Bayangkan saja, seorang raja berumur yang tergolong
sangat muda memimpin sebuah pemerintahan besar. Tapi, apakah dengan umur yang
sangat belia itu beliau tidak bisa mencapai suatu impian besar yang didambakan
semua para pemimpin Islam? Nyatanya sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa
taklukknya Konstannipol berada di tangan pemuda itu. Tapi apakah kita tidak mengambil
pelajaran dari beliau bagaimana cara Konstantinopel bisa takluk? Ya, semua
berawal dari mimpi dan rencana yang gila. Dalam sejarahnya, pada saat beliau
berencana membawa kapalnya untuk ‘mendaki’ bukit sebagai strategi, kira-kira
menteri atau penasehatnya merenspon bahwa ini adalah rencana gila, yang tidak
mungkin dilakukan. Lalu, Muhammad al-Fatih mengatakan, “Selama kalian belum
mati karena melakukannya, maka tidak ada yang tidak mungkin.” Dan pada
akhirnya, mereka berhasil dan Konstantinopel berhasil ditakukkan. Mimpi itu
bisa dicapainya dan membungkam perkataan orang yang mengatakan rencana itu
gila.
Orang yang berkata bahwa bermimpi
harus melihat keadaan atau posisi diri kita, sebenarnya belum bisa memahami
tentang arti suatu impian dan belum tahu bagaimana mewujudkannya.
Maudy Ayunda pernah berkata
kurang lebih begini, “ketika mimpi ‘terlalu’ besar, kita dapat mensiasatinya
dengan membuat step by step atau langkah-langkah kecil yang harus kita capai
sebagai jalan menuju ke impian besar. Dengan begitu, impian besar akan kita
capai dengan mudah...
“Bahwa ketika kita mempuyai mimpi yang besar, maka pecahlah (konseplah) mimpi itu menjadi “mimpi-mimpi” yang tersusun rapi yang akan kita lewati step by step, yang itu akan mengantarkan kita menuju mimpi besar tadi. Maka ketika sudah dikonsep sedemikian rupa dan dicapai sedikit demi sedikit, step by step, maka kita akan mudah untuk menggapainya.” Seorang akan berkata mustahil ketika ia hanya memandang posisi saat itu dan impian besarnya saja. Tidak berpikir bagaimana cara mewujudkannya. Selama kita mau berusaha keras dan berdo’a kepada Allah maka tidak ada yang tidak mungkin selama Allah berada di pihak kita.
4. Orang Zaman Dulu Vs
Orang Zaman Sekarang dalam Ilmu Pengetahuan
Mengapa orang zaman dulu lebih
hebat dalam keilmuan dari pada orang zaman sekarang, padahal kita hidup di
zaman yang sangat mudah dalam mengakses ilmu pengetahuan dan informasi dengan
berbagai fasilitas dan kemudahan yang ada? Itu adalah pertanyaan yang ada dalam
pikiran saya waktu itu dan mungkin juga pertanyaan yang ada di dalam pikiran banyak
orang.
Setelah sekian lama merenunginya,
aku baru mendapatkan jawabannya. Begini, ulama’ zaman dulu itu hidup dalam masa
keemasan islam, di mana peradaban islam waktu itu sedang maju-majunya,
khusus-nya dalam bidang ilmu pengetahuan. Sedangkan di zaman sekarang, walaupun
akses pengetahuan dan informasi bisa di dapat dengan mudah dan cepat dengan
bantuan teknologi yang semakin maju. Akan tetapi, peradaban islam di zaman
sekarang terhitung mengalami kemunduran.
Mengapa? Karena dengan semakin
berkembangnya teknologi tersebut, banyak sekali perubahan dan hal baru yang ada
dalam aktifitas manusia. Tentu ada positif dan negatif yang menyertainya. Sisi
positifnya kegiatan dan pekerjaan manusia bisa dilakukan lebih mudah,
komunikasi antar manusia bisa dilakukan tanpa mengenal jarak, akses informasi
bisa mudah didapatkan dan masih banyak lagi. Tapi, di samping itu, negatifnya juga
tidak kalah banyak, bersamaan dengan pesatnya perkembangan teknologi tadi, muncullah tantangan dan cobaan
baru bagi pelajar kita seperti mudahnya menemukan propaganda, hiburan, hoax,
ujaran kebencian, over information tanpa filter, lingkungan di dunia
maya yang buruk, kemaksiatan dan
berbagai banyak cobaan lainnya.
Berbeda dengan orang pada zaman
dahulu yang cobaannya hanya sedikit, pelajar muslim pada zaman sekarang tantangan dan cobaannya lebih
kompleks, maka apabila tidak bisa mengambil sikap bijak, mengatur dan
membatasi diri, sebesar dan semudah apapun fasilitas pengetahuan dan teknologi
tidak akan memberi faedah bagi dirinya dan sekitarnya. Justru teknologi itu
akan menghancurkannya. Apalagi, ada sekelompok manusia jahat yang ingin
menghancurkan umat islam lewat teknologi. Dan kacaunya, orang islam itu sendiri
tidak menyadari.
“Tantangan dan cobaan terberat pelajar zaman sekarang adalah lingkungan yang buruk(nyata & maya), kemaksiatan, propaganda, hoax, ujaran kebencian, dsb. yang sangat mudah didapatkan. Dan itu berkumpul dalam satu: Media sosial. Maka, solusinya adalah bagaimana agar kita bisa menyedikitkan penggunaan media social dan atau menggunakannya dengan bijak. Konsep mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik perlu kita terapkan dengan bijak.”
5. Metode Belajar Ala Kitab
Ittihafus sadath Syarah Kitab Ihya’ Ulumuddin
Ada dua tips menambah ilmu
menurut Kitab Ittihafu Assadath Syarah Kitab Ihya’ Ulumuddin juz 1 S. 86:
1. Diajarkan.
2. Diamalkan.
Berikut penulis jabarkan
penjelasan sebagai tambahan ilmu mengenai dua poin di atas:
Pertama, diajarkan. Sebelumnya, ada
pertanyaan mendasar yang biasa terbesit dalam pikiran kita. Apakah kita sebagai
pelajar lebih baik fokus saja dengan mununtut ilmu sampai umur 30 tahun atau
lebih baik disamping menuntut ilmu kita juga sesekali harus mengajarkan tentang
apa yang kita pelajari?
Saya tidak akan menjawabnya, tapi
saya akan memaparkan mengapa walaupun kita masih dalam proses menuntut ilmu
kita juga perlu mangajarkan apa yang kita pelajari. Sebenarnya (merujuk pada
tips menambah ilmu di atas), mengajar adalah bagian dari menuntut ilmu. Ketika
kita mengajarkan, kita akan menuntut diri kita untuk membuka kembali dan mengulang-ulang
pelajaran yang telah dipelajari dengan matang, dan terkadang menambah referensi
sebagai pelengkap pelajaran yang sebelumnya kita belum mengetahuinya. Sehingga,
disitulah letak dorongan untuk menambah ilmu. Pengalaman penulis, walaupun
masih dalam tahap menuntut ilmu, sering ketika mengajarkan, pengetahuan penulis
menjadi semakin matang. Dan perlu diperhatikan juga, bahwa terkadang ilmu
ataupun pelajaran itu muncul ketika diajarkan atau disampaikan.
Akan tetapi, tetap menjadi
pertimbangan ketika kita hendak mau mengajarkan. Apa yang kita pelajari dan apa
yang hendak kita ajarkan? Jangan sampai kita mengajarkan ilmu yang belum
benar-benar kita pahami dan kuasai, dan jangan sampai kita mengajarkan sesuatu
yang apabila ketika salah akan menimbulkan kesalahan yang besar dan fatal. Akan
lebih baik ketika hal itu diajarkan dengan mendapat restu dan ijazah dari sang guru.
Khususnya dalam hal ini adalah dasar agama.
Kedua, diamalkan. Guru saya di
pesantren sering mendawuhkan kepada santri-santrinya dengan hadist yang artinya
seperti ini,”Barangsiapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui, maka Allah akan
memberikan ilmu yang dia belum tahu sebelumnya.” Dalam pandangan penulis, ilmu
(tidak semua) memang sudah seharusnya diamalkan. Karena rugi, ketika ilmu terus
diajarkan ila yaumil qiyaamah, tapi -katakanlah misalnya- tidak ada yang
mengamalkannya. Memang ilmu itu masih ada, akan tetapi untuk apa ilmu itu ada tanpa
ada yang mengamalkannya? Bukankah ilmu dipelajari agar memperbaiki perilaku?
6. Pentingnya Komunitas
Dalam Membangun Peradaban
Ada pepatah yang mengatakan
“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”
Pernah suatu saat saya berpikir,
andaikan saja di daerah saya ada suatu komunitas yang di situ menjadi wadah
para pelajar atau santri kitab agar melestarikan dan meramaikan pengkajian berbagai
karya tulis para ‘ulama salaf. Mereka akan saling mengenal satu sama lain,
saling berdiskusi, bertukar pendapat dan bersilaturahmi dan terkadang
mengundang para pengasuh mereka sebagai oase para santri yang haus akan
keberkahan dari para guru dan ‘ulama.
Mengapa? Karena lingkungan ketika
di pesantren dengan ketika sudah terjun dalam masyarakat pasti akan berbeda.
Ketika sudah di masyarakat, tidak ada lagi teman-teman belajar, teman diskusi
ilmu, gasak-gasakan tanpa ada yang baper, saling menasehati, dan berganti
dengan orang-orang yang awam agama dan spiritual, abangan, dll. Ketika sudah di masyarakat lingkungan kita
sudah extrim. Banyak kemaksiatan yang tidak kita temui di pesantren. Apalagi di
zaman akhir seperti ini.
Maka, komunitas yang menyatukan
para alumni pesantren dengan kajian keilmuan karya tulis para ‘ulama salaf
menjadi penting untuk menjaga tradisi keilmuan, akhlaq dan perilaku santri di
dunia luar. Karena santri akan benar-benar diuji kesantriannya saat sudah di
dunia luar.
Berbicara mengenai komunitas sama
dengan berbicara mengenai circle dalam bahasa anak zaman sekarang. Suatu saat,
Lora Husein Basyaiban bercerita, pernah menemui seorang perempuan memakai
singlet. Perempuan tadi lewat di depan lora Husein dengan gaya sopan seperti santri.
Bersikap seperti itu, sang Lora kaget, mengapa perempuan berpakai seperti itu
tapi lagaknya seperti santri. Sang Lora pun bertanya kepada perempuan itu,
setelah ditelisik lebih lanjut, ternyata sang wanita itu dulu adalah seorang
santri, bahkan hafal kitab alfiyah dan tau isi kitab fiqih yang biasa dipelajari
di pesantren. lantas, apa yang menjadi penyebab wanita itu berubah? Ternyata
circle. Circle / lingkungannyalah yang membuat keadaannya berubah.
Maka, ini menjadi pelajaran
penting bahwa circle atau lingkungan kita itu sangat-sangat mempengaruhi diri
kita. Seperti dawuh seorang Ulama’, ”Barangsiapa yang sering berkumpul dengan
orang kaya, Allah akan membuatnya semakin gila harta. Siapa yang sering
berkumpul dengan orang miskin, Allah akan membuatnya semakin mudah menerima.
Siapa yang sering berkumpul dengan wanita, Allah akan membuatnya semakin
bernafsu birahi. Siapa yang sering berkumpul dengan penguasa, Allah akan
membuatnya semakin angkuh hati. Siapa yang sering berkumpul dengan orang fasiq,
Allah akan membuatnya semakin berani berbuat dosa. Siapa yang sering berkumpul
dengan Ulama’, Allah akan membuatnya semakin berilmu dan beramal, Siapa yang
sering berkumpul dengan orang soleh, Allah akan membuatnya semakin semangat
melakukan kebaikan.”
Pada dasarnya, kita akan menjadi apa yang selalu disekeliling kita. Semoga kita dijauhkan dengan lingkungan dan pertemanan yang buruk dan diberikan pertemanan dan lingkungan yang mengantarkan kita kepada ketaatan, ilmu dan amal ibadah.
7. Filsafat Stoicisme: Filsafat
Yang Islami
Stigma masyarakat awam atas
filsafat pada umumnya adalah filsafat itu bahaya, menyesatkan, haram, bertolak
belakang dengan ajaran agama, dll. Pada akhirnya, masyarakat awam menjauhi
filsafat. Padahal, sebenarnya tidak semuanya pelajaran filsafat bertolak
belakang dengan ajaran agama.
Filsafat sendiri adalah ilmu
berpikir atau logika yang menjadi induk semua ilmu. Filsafat memiliki banyak
cabang. Tokohnya pun juga bermacam-macam. Bahkan dari kalangan ilmuwan muslim
banyak yang ahli filsafat, seperti ulama besar Imam al-Ghazaly, Ibnu Rusyd,
Ibnu Sina, Ibnu Kholdun, dll.
Ada satu cabang filsafat yang
pernah saya baca dan langsung memberi kesan pada saya bahwa filsafat ini adalah
filsafat islami(termasuk filsafat yang ajarannya sesuai dengan ajaran agama
Islam): Stoicisme.
Saya akan memaparkan 2 hal yang
termasuk ajaran Filsafat Stoic:
1. Dikotomi kendali. Kita harus
menyadari bahwa dalam kehidupan diri kita, ada hal yang bisa kita kendalikan
atau kontrol dan ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Ini dinamakan
dikotomi kendali. Maka, artinya, kita hanya bisa mengontrol apa yang dalam
kendali kita. Dan apabila kita fokus dan mengatur apa yang tidak bisa kita
kendalikan, maka kekecewaan akan kita rasakan.
Misal, yang bisa kita kendalikan:
pikiran, keinginan, harapan, persepsi, dan segala sesuatu yang merupakan
pikiran dan tindakan kita sendiri.
Yang tidak bisa kita kendalikan:
opini dan persepsi orang lain, perilaku oranglain, musibah yang datang,
penyakit, kematian, dan masih banyak lagi.
Saya akan memberikan contoh yang
selaras dengan ajaran agama. Suatu hari keluarga kita mendapatkan musibah dengan
salah satu anggota yang kita cintai meninggal. Sebagai orang awam, bisa jadi
kita akan sangat bersedih berhari-hari sampai tidak makan atau mungkin sampai
tidak terima atas taqdir yang menimpa kita. Tapi, bagi yang menerapkan stoic,
ia tau bahwa ia tidak bisa mengendalikan keluarganya tetap ada atau meninggal.
Toh, juga suatu saat mereka memang akan meninggal. Yang bisa lakukan adalah mengendalikan
dirinya untuk bersikap tenang dan bersedih sewajarnya. Dalam hal ini, stoic
membantu kita untuk mudah menerima taqdir dan tidak berlebihan dalam menangisi
keluarga yang meninggal.
Contoh kedua: Ketika ada sikap
oranglain (katakanlah: menggunjing, mencemooh, atau menfitnah) yang pada
umumnya mungkin membuat kita marah. Dalam stoic, gunjingan atau fitnah
oranglain adalah di luar kendali kita. Kita sepenuhnya tidak bisa mengatur
oranglain untuk tidak menfitnah atau menggunjing kita. Tapi kita bisa mengatur
diri, untuk memilih menyikapinya dengan tenang, diam, tersenyum atau marah.
Karena sebenarnya di luar kendali kita seperti fitnah, cemooh, dll bersifat
netral. Reaksi, persepsi dan pikiran yang membuat kita bersikap positif ataupun
negatif. Itu semua dalam kendali kita.
Contoh di atas menggambarkan
bahwa dikotomi kendali dalam ajaran stoic
itu selaras bahkan membantu kita untuk menerapkan ajaran islam seperti
tenang dalam setiap kondisi, sabar, tidak gampang membenci atau pemarah, dll.
2. Sederhana dan latihan
menderita
Stoic
mengajarkan kesederhanaaan dalam hidup. Dengan tidak mengikat dan menilai
segala hal dengan sesuatu yang bersifat material dan juga fokus pada kekayaan
batin. Selain itu, stoic mengajarkan untuk mau melatih diri kita menderita(sama
dengan ajaran tirakat dan nglatih hawa nafsu dalam ajaran guru kita). “Jika
kamu ingin seseorang tidak goyah saat krisis menghantam, latihlah sebelum
krisis itu datang,” kata Seneca. Latihan menderita menjadikan diri kita tangguh
dan tegar ketika musibah benar benar menimpa kita. Selain itu juga bisa
menjadikan kita lebih mensyukuri nikmat
yang telah kita punya.
Ini sesuai dengan apa yang pernah
diajarkan Gus Baha mengenai istighna’. Merasa cukup. Kita perlu untuk tidak
menggantungkan atau membatasi standar kenikmatan ataupun kebahagian terhadap hal-hal
yang mahal. Bahwa kenikmatan hanya didapatkan pada sesuatu yang bersifat
material atau benda mahal. Kita bisa merasakan kenikmatan dengan ngopi, rokok
dan ngobrol dengan teman. Dan bodoh sekali ketika kita membatasi kenikmatan
pada barang-barang mahal apalagi yang tidak kita punyai.
8. Beda Pendapat Saya Dan
Sahabat Saya Tentang Motifasi
Ada sedikit cerita tentang
diskusi saya dengan sahabat saya yang sebenarnya tingkat kecerdasannya lebih
unggul daripada saya. Tapi pada tema kali ini saya lebih unggul. Pernah suatu
saat saya bertanya kepada sahabat saya mengenai motifasi. Dia berpendapat kira-
kira begini, “Saya nggak suka motifasi, karena motifator-motifator itu belum
tentu bisa melakukan apa yang dikatakannya.” Jadi dia mungkin berkesimpulan
untuk apa melakukan saran atau motifasi oranglain yang dia sendiri belum tentu
bisa atau belum melakukannya. Kalau dalam bahasa jawa, ”lah wong awakmu wae
durung ngelakoni kok ngakon-ngakon wong liyo, awakmu dewe lakoni, mari ngunu
wei nasehat nek wong liyo.” Mereka bisa jadi pandai berbicara tapi juga
sulit ketika melakukannya. Dan mungkin juga, dia berpendapat bahwa motifasi
tidak memberikan ilmu. Ia hanya mendorong kita untuk bergerak.
Coba stop dulu, dan berikan
pendapat kalian.
Setelah itu, tiba giliran saya
berpendapat, ”Kalau saya suka motifasi. Karena pengalaman saya, Lantaran
motifasi saya mempunyai impian dan harapan. lantaran motifasi saya bisa rajin
dan bekerja keras. Yang itu saya gunakan untuk terus belajar dan mendapatan
ilmu. Jadi, ibarat motifasi adalah bahan bakar motor agar motor bisa bergerak.
Sebenarnya, saat itu saya sadar mengapa dia hidupnya tampak kurang bersemangat.
Sedangkan saya lebih ke ambisius dan penuh semangat. Walaupun kita sama-sama suka
ilmu.
Lalu, terkait motifator belum
tentu melakukan apa yang dikatakannya, itu tidak menjadi masalah. Karena yang
terpenting adalah kita melakukan yang kita cari dari motifasi itu. kita
tergerak dan mendapatkan manfaat dari motifasi itu. Kalau kita tidak mau
melakukan nasehat yang bernilai positif hanya karena orang yang memberi nasehat
belum melakukannya, maka kita terjebak dalam kesalahan berpikir. Justru, diri
kita perlu untuk melakukan kebaikan dan mendapatkan manfaat sekalipun itu
muncul dari mulut anak kecil.
Menurut saya, sah-sah saja ketika
kita suka motifasi- selama tidak over. Jadikanlah motifasi sebagai penggerak
diri agar bergerak lebih jauh. Yang keliru menurut saya justru ketika
kebanyakan motifasi tapi minim aksi. Pergerakan kita hanya bergantung pada
konten motifasi. Jadi, tidak bisa mengalahkan diri sendiri untuk mulai
bergerak. Habis waktunya untuk mencari konten-konten motifasi.
Untuk sahabat saya, partner saya berdiskusi, kali ini saya menang, karena saya yang menguasai media :)
9. Refleksi: Pentingnya
Khulwah (Menyendiri) Bagi Pelajar Di Zaman Sekarang
Di zaman sekarang, zaman pesatnya
teknologi, sangat mudah untuk kita menemukan banyak hal. Informasi, berita,
berkomunikasi dengan teman yang jauh, konten-konten dari hiburan sampai ilmu
pengetahuan, bahkan kemudahan dan kecanggihan itu dimanfaatkan oknum-oknum
jahat untuk menyebarkan virus jahat / negatif, dan masih banyak lagi.
Kita sesekali perlu merenungi
hidup yang kita jalani. Sebagai seorang pelajar, apakah jalan yang kita tempuh
untuk menuntut ilmu sudah dengan cara yang benar? Dalam arti, apakah kita
benar-benar mencurahkan perhatian kita pada ilmu pengetahuan ataukah sebenarnya
kita menomerduakan ilmu pengetahuan dari yang lainnya? Atau masih banyak waktu
yang terbuang untuk hal tak berguna? Scroll-scroll media sosial tak jelas sampai
lupa waktu, bahkan untuk maksiat?
Jadi, di sini saya ingin mengajak
pencari ilmu semua, khususnya pelajar yang tidak mondok dan seluruh alumni yang
sudah tidak menetap di pondok untuk berefleksi diri. Bahwa kita hidup di akhir
zaman. Zaman di mana kemaksiatan sangat mudah didapatkan. Hanya dengan membawa
handphone dan akses internet, kita bisa mengakses hal apapun tanpa batas. Baik
maupun buruk, informatif maupun berita hoax, di internet, hanya diri kita yang
bisa mengendalikan. Untuk itulah, tidak seharusnya sebagai santri atau pelajar
kita menghabiskan banyak waktu untuk bermain handphone, khususnya media
sosial-tanpa ada kepentingan belajar di dalamnya. Kita harus sadar, bahwa di media sosial,
banyak sekali bertebaran konten-konten yang dapat menghalangi atau mengalihkan
kita dari menuntut ilmu. Hiburan, konten mesraan, maksiat, wanita yang tak malu
berjoget dan masih banyak lagi. Tanpa ada kebutuhan yang jelas alias gabut,
kita akan mudah terjebak pada kecanduan bermedia sosial, bahkan menonton gambar
dan vidio tak senonoh. Karena itu semua sangat mempengaruhi perkembangan kita
dalam menuntut ilmu.
Maka, solusi yang akan saya
berikan mengenai permasalahan ini adalah hendaknya sebagai pelajar untuk
menyendiri(khulwah) dari hiruk pikuk dunia, dari semua perbuatan yang bisa
menghalangi dan menjauhkan kita dari ilmu, dan tentu dari keramaian media
sosial juga, untuk fokus pada menuntut ilmu dan memperbaiki hubungan kita
dengan Allah. Karena dengan begitu, diri dan pikiran kita akan lebih bisa fokus
untuk itu, yang nantinya akan menghasilkan hasil yang lebih maksimal. Jalan
inilah yang ditempuh oleh ulama’ zaman dahulu.
Tentu tidak selamanya kita akan
menyendiri, karena kita butuh bertemu dengan orang lain, saling berdiskusi, dan
bersosial. Tapi berilah waktu tertentu dimana kita harus menyendiri. Romo Kyai
saya sendiri, selalu khulwah di setiap 10 hari pertama bulan Muharrom, rajab dan
Ramadhan. Gus Baha’ juga mempunyai waktu sendiri di mana waktu tersebut beliau
tidak menerima undangan dan dikhususkan untuk santri-santrinya.
Syeikh Fathi Hijazi, Ulama’ Al-Azhar Mesir pernah memberikan wejangan yang intinya, “Pengertian khulwah adalah Sebuah tempat yang jauh dari manusia. Menyendiri ditempat itu. Yaitu seorang hamba, karena ingin selalu bersama tuhannya. Oleh karena itu seorang santri hendaknya ia menyendiri ketika belajar. Kenapa? Karena tidaklah bisa didapat lmu-ilmu di hati seorang santri dan di kepalanya, kecuali ia menyendiri ketika belajar dari semua perkara kecuali Allah SWT. Adapun yang belajar sedangkan di depannya ada televisi, sambil bermain ponsel atau sambil bekerja, orang yang seperti ini mustahil sampai terhadap yang ia harapkan. Belajar membutuhkan kesendirian.”
10. Gagasan Tentang
Pesantren Harus Menjadi Markas Utama Lahirnya Manusia Hebat Yang Berperan Dalam
Semua Lini Pengabdian
Pada pandangan
kebanyakan orang awam, pesantren adalah tempat belajar agama, yang pelajar di
sana dinamakan sebagai santri yang berjibaku dengan kitab kuning, walaupun beberapa
ada yang menyediakan sekolah umum. Pesantren menjadi peran utama bagi
terjaganya tradisi dan nilai islam yang ada di Indonesia. Pesantren juga
mempunyai potensi besar untuk berperan terhadap kemajuan bangsa. Walaupun
begitu, masih banyak hal-hal yang perlu dikembangkan atau dimaksimalkan
potensinya. Berikut adalah gagasan saya mengenai bagaimana pesantren menjadi
markas penting lahirnya tokoh-tokoh yang bisa mengisi berbagai lini pengabdian
terhadap negara dan masyarakat:
1. Pesantren Di Bagi Menjadi 2 Jenis Atau Model.
Model pertama, pesantren salaf-klasik,
yang di situ santri lebih dominan untuk mempelajari kitab salaf karya ulama’,
mereka dididik untuk menjadi ulama’, kyai atau pendakwah di tengah-tengah
masyarakat, dalam hal ini bisa diambil contoh seperti pesantren Lirboyo induk,
sarang, ploso, dan semacamya.
Model kedua, pesantren modern. Di
pesantren ini, selain mereka mempelajari agama lewat karya Ulama’ salaf, mereka
juga mempelajari ilmu umum. Bahkan bisa juga lebih dominan dalam ilmu umumnya. Mereka
juga dididik untuk mempelajari teknologi dan mengikuti perkembangan zaman. Ini
penting untuk ditekankan, karena ini menjadi bekal agar santri bisa memberikan
peran besar pada negara dalam semua lini pengabdian, tidak hanya menjadi
seorang agamawan atau pendakwah saja. Dengan begitu, harapannya adalah lahir
politisi-politisi, pemimpin daerah, ahli tata negara, wakil rakyat, dosen,
dokter, bussinesman, investor, dan sebagainya yang lahir dari rahim
pesantren. Maka, pada dasarnya adalah mereka memang hendak belajar atau dididik
untuk menjadi politisi, bussinesman, dan lain-lain yang sudah saya sebutkan di
atas, cuman mereka dididik dan didasari oleh nilai-nilai Islam, dengan akhlaq
dan tujuan yang baik, dan dengan background pesantren.
2. Memajukan Budaya Literasi Lewat Perpustakaan Pesantren Yang Maju.
Salah
satu kekurangan yang dimiliki bangsa ini adalah rendahnya minat baca
masyarakatnya. Menurut penelitian dari UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia
berada pada peringkat 60 dari 61 negara. Ini menjadi kekurangan besar bangsa
yang harus kita kasih solusi. Dan diperparah lagi, dengan minat baca yang
rendah itu, justru masyarakat kita mencapai peringkat empat pengguna paling
aktif gadget di dunia –tentu juga penggunaan media sosialnya. Maka, yang
terjadi adalah mereka menjadi mudah untuk diprofokasi, sasaran hoax atau berita
bohong, mereka ibarat “berdiskusi” tentang berbagai macam hal yang di media
sosial tanpa mempunyai wawasan yang memadai, mereka tidak mempunyai kecakapan
dalam mengontrol, memilih dan memilah mana yang disitu kita harus berbicara dan
bersikap bijak dalam menyikapi konten. Waktu mereka bisa akan habis untuk
mengkomsumsi konten-konten unfaedah yang mengambil waktu mereka, bahkan sangat
mudah untuk dipengaruhi oleh konten-konten negatif yang itu, secara halus akan
menghancurkan peradaban dan moral pemudanya.
Maka
dari itu, perpustakaan pesantren menjadi tempat yang pas untuk menumbuhkan
minat baca masyarakat Indonesia. Melihat, santri tidak bisa sekenanya mengakses
gadget dalam lingkungan pesantren. Lalu, bagaimana agar perpustakaan pesantren
benar-benar bisa menjadi tempat yang paling digemari oleh para santri untuk
belajar dan membaca? Saya mengambil
pelajaran dari zaman ketika peradaban Islam sedang dalam kemajuan dan yang
dilakukan oleh negara-negara maju Eropa dengan tradisi membaca yang kuat.
Diantaranya adalah, pertama, harus merelakan dana besar yang digunakan untuk
menghasilkan buku-buku berkualitas karya anak bangsa atau pun karya asing.
Termasuk bangsa Inggris dan Arab. Kedua,
perpustakaan harus menjadi tempat dimana siklus keilmuan dan diskusi ilmiah
berada. Ketiga, perpustakaan harus menjadi tempat ternyaman bagi santri untuk
belajar dan membaca. Keempat, ada gerakan penerjemahan besar-besaran oleh karya
besar berbahasa asing atau mendatangkan buku-buku besar dengan teks aslinya,
selama santri sudah dipastikan menguasai bahasa tersebut.
Jadi,
di atas adalah 2 ide gagasan saya dalam mewujudkan peradaban yang maju lewat
rahim pesantren. Tentu tidak mudah untuk mewujudkannya. Dan masih perlu
pengembangan-pengembangan atas ide-ide itu. Maka, saya sangat membuka pintu
lebar untuk berdiskusi mengenai permasalahan ini demi mewujudkannya peradaban
yang maju untuk negara kita tercinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar