Muhammad Haidar Fanani. Lahir di Jepara, 16 Desember. Hobi membaca, menulis, mendengarkan musik, diskusi santai dan olahraga. Dan, akan lebih suka lagi apabila membaca dan menulisnya di saat hujan turun, sambil minun coklat atau kopi.
Blog pendidikan
Sabtu, 02 Desember 2023
StO-MyLife - Desember
Kamis, 27 Juli 2023
Story Of My Life
(Malam Senin,17 Juli)
Puisi dari Gus Nadirsyah Housen
(HANYA)
Kami hanya debu yang beterbangan
Diputar tak tentu arah oleh badai cintaMu
Kami hanya kelopak bunga yang bermekaran
Diperindah tak terkira oleh tetesan embun kasih sayangMu
Kami hanya pejalan yang merangkak berkeluh kesah
Ditarik mendekat tak berjarak oleh dekapan ujianMu
Kami hanya hamba yang merindu tak berkesudahan
Dibebankan amanah tak terperi di dunia ini oleh lambaian kuasaMu
Kami hanya menunggu tiba waktu berpulang
Diperlama oleh sekian ambisi kehidupan seolah kami tak lagi mengenalMu
Kami hanyalah hamba yang terus bertanya
Dijawab dengan harapan akan syafaat NabiMu
Tabik,
(Malam Selasa, 17 Juli)
Merintis sendiri memang berat di awal. Tapi jika kamu terus konsisten, proses itu akan menjadi kesenangan bagimu. Korbarkan semangattmu. Cintai prosesnya. Maju pantang mundur. Kelak kamu akan menikmati hasilnya dan berterima kasih kepada dirimu saat ini. Tetap semangatt!
(23.25)
Gakpopo mlaku alon-alon, Dar. Seng penting ojo nyerah. Ojo nyerah! Ojo mandek!! Ojo putus asa!! Semangaaatttt!!!(MalJum, 21 Juli, 02.09)
Tadi malam aku telah menonton seorang pengusaha muda yang mengatakan tentang harta berharga bukanlah uang, tetapi waktu. Dan saat ini, saya juga mendapatkan pelajaran yang sama dalam buku Filosofi Teras. Maka saya pribadi mengambil kesimpulan dengan quote, "Harta paling berharga adalah waktu. Bukan uang ataupun harta benda. Karena itu bisa dicari. Sedangkan tuhan memberi waktu kepada kita sama. Tinggal bagaimana seseorang menggunakan waktunya untuk hal yang produktif banyak hal atau kebalikannya, untuk menjadi manusia berkualitas atau tak berkualitas, untuk hal yang membuat kaya atau miskin, dsb."
Malam Jum'at, 04.00, 21 Juli.
(Menjadi lebih dewasa dengan tidak bermain cinta)
Sekarang, aku telah bertekad untuk tidak bermain cinta dan hanya memikirkan pernikahan ketika masuk usia 30 an. Untuk itulah, aku ingin menasehati diriku, menempa diriku dan semua orang yang menginginkan kebijaksanaan, bahwa belajarlah lebih dewasa untuk menyiapkan segalanya sebelum memasuki pernikahan.
Aku berharap tuhan menuntunku agar bisa lebih fokus dan selalu konsisten mengembangkan diri dalam segala hal dan memanfaatkan waktu semaksimal mungkin-di masa muda khususnya. Entah dalam segi pendidikan diri, ilmu pengetahuan, mental dan ekonomi.
Tak ada gunanya bermain cinta atau mencari² "pacar" yang sebenarnya belum tentu jodoh kita. Toh, jodoh sudah disiapkan tuhan untuk kita. Ceroboh sekali diri kita ketika sibuk mencari-cari pasangan tapi tak ada bekal yang kita siapkan.
Sebenarnya saya turut prihatin kepada para pemuda(wanita khususnya) yang tidak mengerti hal ini. Mereka sibuk melakukan hal unfaedah atau memposting kecantikannya di media sosial agar menarik para lelaki. Setelah itu ia bebas bersenang-senang dengan lelaki pilihannya yang berhasil ia goda (yang mungkin ia tidak sadar telah menggoda). Setelah itu ia ditinggalkan, sedih, mencari lelaki lain, ditinggalkan lagi dan seterusnya. Dan ketika mereka para wanita menemukan lelaki yang bagus dalam segala hal, mereka membayangkan mendapatkannya dan setelah itu berkata, "Aku mah apa?" Hei, salah siapa kamu tidak menggunakan waktumu untuk terus mengembangkan diri dan menfokuskan kecantikanmu untuk calon suamimu saja?
Terakhir, jadilah pemuda-pemudi yang berkualitas!
.
.
.
(Analisis mengenai mengapa bulutangkis di Indonesia lebih maju daripada sepakbola)
Kudus, Rabu, 26 Juli 2023.
14.10
"Waktu lebih berhaga daripada uang."
Tidak ada yg lebih berhaga daripada waktu dan ilmu. Uang bisa dicari, selama ada usaha dan keyakinan kepada tuhan yg maha pemberi Rizqi. Sedangkan waktu terus berlalu tanpa bisa diputar kembali. Kalau sudah seperti itu, mengapa kita sebegitu keras dan sibuknya mencari uang? Bahkan untuk beribadah saja tidak begitu diperhatikan. Lalu, pantaskah menginginkan dunia dengan mengabaikan pemilik dunia?
Semua tergatung persepsi kita. Berpikir positif akan mendapatkan manfaat. Berpikir negatif hanya menurunkan kwlitas dan tak mendapat apa-apa. Pernah sa berdiskusi denga teman saya tentang motifasi.
(Jum'at, 28 Juli, ba'da Solat Jum'at)
"Untuk calon istriku kelak."
"Dek, tolong jaga dirimu di sana. Mas di sini sedang susah payah dan merajinkan diri untuk menuntut ilmu, memperbaiki diri, menjaga diri, dan bekerja keras untuk masa depan kita. Kamu jangan pacaran, Ya. Fokus ngembangin diri aja.:)
Malam Rabu, 22 Agustus
Sampai sejauh ini, saya masih meyakini bahwa kunci sebuah negara maju adalah pertama pendidikan, kedua spiritualitas.
Dan hal utama dari aspek pendidikan adalah membaca buku.
Maka dengan ini, saya akan melihat sejauh mana pikiran ini bertahan.
Kamis, 20 Juli 2023
About Philosophy
Selasa, 11 Juli 2023
Rangkuman Tentang Pengetahuan keuangan
Kamis, 26 Januari 2023
Kegabutan Malam Jum’at Dan Jalan Terjang di Masa Muda
Lumaya sulit dan lumayan berat. Itulah kalimat yang cukup
mewakili apa yang saya rasakan di masa muda. Sungguh masa muda adalah masa
emas. Masa dimana seharusnya sesorang menjadi produktif, banyak belajar, banyak
mencoba hal baru dan mempeljari skill baru. Aku tau itu, dan akupun juga ingin
mencapai target-target yang harus dicapai. Tapi, agaknya itu sungguh berat. Skil
seperti menulis, publik speaking, editing foto dan vidio, dan sedikit menguasai
teknologi harus aku kuasai. Kadang aku berpikir untuk mundur dan hanya fokus
untuk mempelajari ilmu saja. Ngaji, membaca buku, mempelajari kitab kuning,
menulis, gitu terus sampai tiba-tiba aku diambil menantu kyai besar dan aku
dikuliahkan di universitas impianku, dan semua impianku bisa tercapai dengan
mudahnya tanpa aku berusaha sendiri mewujudkannya. Tapi, itulah yang aku
bingungkan. Aku sudah terlanjur memulai. Apakah
aku harus melanjutkannya atau aku fokus saja pada ilmu-ilmu dengan membaca
buku, mempelajari kitab dan menulis? tanpa mempelajari skil yang dibutuhan di
era modern ini?
Agaknya aku sedikit mendapatkan jawaban (dan sering seperti
ini aku mendapatkan inspirasi-yaitu dengan menulis sesuatu yang menjadi
permasalahan)
Mungkin jawaban yang tepat adalah: yang terpenting bagi
diriku adalah mementingkan “isi” lebih dahulu. Aku harus lebih mementingkan belajar ilmu-ilmu, menulis dan belajar
menyampaikan daripada mempelajari skil-skil
yang masuk kategori “kulit.” Oke mungkin
itu juga penting, tapi kamu tak banyak waktu untuk itu dan akan lebih baik jika
hal itu kamu serahkan kepada orang lain yang menguasai “kulitnya” dan mau
diajak kolaborasi. Sisi kerjasama atau gotong-royong harus ada yang akibatnya
hasilnya akan lebih besar daripada melakukan semuanya sendirian.
Semua itu butuh yang namanya proses dan yang terpenting
jangan sampai tidak menggunakan waktu muda untuk mempelajari ilmu-imu khususnya
ilmu agama dan umum.