Lumaya sulit dan lumayan berat. Itulah kalimat yang cukup
mewakili apa yang saya rasakan di masa muda. Sungguh masa muda adalah masa
emas. Masa dimana seharusnya sesorang menjadi produktif, banyak belajar, banyak
mencoba hal baru dan mempeljari skill baru. Aku tau itu, dan akupun juga ingin
mencapai target-target yang harus dicapai. Tapi, agaknya itu sungguh berat. Skil
seperti menulis, publik speaking, editing foto dan vidio, dan sedikit menguasai
teknologi harus aku kuasai. Kadang aku berpikir untuk mundur dan hanya fokus
untuk mempelajari ilmu saja. Ngaji, membaca buku, mempelajari kitab kuning,
menulis, gitu terus sampai tiba-tiba aku diambil menantu kyai besar dan aku
dikuliahkan di universitas impianku, dan semua impianku bisa tercapai dengan
mudahnya tanpa aku berusaha sendiri mewujudkannya. Tapi, itulah yang aku
bingungkan. Aku sudah terlanjur memulai. Apakah
aku harus melanjutkannya atau aku fokus saja pada ilmu-ilmu dengan membaca
buku, mempelajari kitab dan menulis? tanpa mempelajari skil yang dibutuhan di
era modern ini?
Agaknya aku sedikit mendapatkan jawaban (dan sering seperti
ini aku mendapatkan inspirasi-yaitu dengan menulis sesuatu yang menjadi
permasalahan)
Mungkin jawaban yang tepat adalah: yang terpenting bagi
diriku adalah mementingkan “isi” lebih dahulu. Aku harus lebih mementingkan belajar ilmu-ilmu, menulis dan belajar
menyampaikan daripada mempelajari skil-skil
yang masuk kategori “kulit.” Oke mungkin
itu juga penting, tapi kamu tak banyak waktu untuk itu dan akan lebih baik jika
hal itu kamu serahkan kepada orang lain yang menguasai “kulitnya” dan mau
diajak kolaborasi. Sisi kerjasama atau gotong-royong harus ada yang akibatnya
hasilnya akan lebih besar daripada melakukan semuanya sendirian.
Semua itu butuh yang namanya proses dan yang terpenting
jangan sampai tidak menggunakan waktu muda untuk mempelajari ilmu-imu khususnya
ilmu agama dan umum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar