Bismillah.
Malam itu, satu hari sebelum masuk pondok, aku berdialog dengan teman seangkatan dan seumuran. Pada waktu itu, aku bertanya kepadanya "lan, liburan ini kamu nulis gak?" Lalu dia menjawab, "Piye yo, aku durung moco buku," kata Fulan. Lalu dia melanjutkan,"Aku nek nulis iku kudu moco buku sejarah utowo seng berbobot sek." kira-kira dia berkata seperti itu. Maksudnya adalah dia kalau menulis itu membaca dulu baru bisa mendapatkan ide. Dan itupun harus buku yang berbobot atau buku sejarah. Asal bukan novel atau buku motifasi.
Sekilas tentang temanku itu, dia adalah Kamvret yang lahirnya duluan aku, tapi wajahnya duluan sana, wkwkw, jadi wajahnya membalap umurnya...hh..canda😂✌. Kami seangkatan di pondok dan mempunyai hobi yang sama. Yaitu membaca dan menulis. Dulu waktu jadi anak baru kami sangat akrab. Kadang sharing-sharing atau diskusi mengenai suatu hal. Dan itupun sampai sekarang masih. Walaupun aku tahu-bukan bermaksud sombong-bahwa soal cerdas dan wawasan masih banyakkan aku sedikit, banyakan dia banyak😅. (Wkwk, bermaksud canda, maksudnya)
Sampai beberapa tahun sebelum batas akhir di pondok, kami saling menanyai kelak mau melanjutkan di mana, sampai kita saling berkata, " ojo lali aku lo." So sweet banget gak sih😂. Bahkan, terkadang dia juga saya jadikan sebagai pacuan. Intinya, aku jangan sampai kalah sama dia, batinku. Wabil khususnya dalam hal menulis.
Setelah beberapa waktu berlalu, hubungan kitapun seakan-akan seperti saingan. Suatu ketika, saat seangkatan sudah tahu siapa diantara kami(seangkatan) ada yang punya adik, teman-temanpun mulai menganggil kakak kepada beberapa teman yang mempunyai adik. Termasuk si Kamvret, bahkan ia sangat intensif sekali memanggil kakak. Tapi sialnya, dia dicuekkin sama mereka. Malahan, aku yang di panggil "dek" oleh temanku itu. Yes, dan akupun menang. Haha.
Sebenarnya, sebelum aku mempunyai hobi membaca dan menulis, dia sudah terlebih dulu mempunyainya. Aku baru mempunyai hobi membaca ketika di tahun kedua dan menulisnya di tahun ketiga. Dia tipe penulis dengan gaya penyampaian seperti sudjiwo tejo, menurutku. Dia sangat mengagungkan penulis Eka Kurniawan. Sedangkan aku Habiburrohman El-Shirazy.
Lanjut pada dialog pada malam itu, sebenarnya tulisan ini sebagai tanggapan padanya dan diapun nanti boleh menanggapinya lagi. Karena memang tradisi seperti ini sudah terjadi sejak zaman dahulu. Dan diantara kitapun tidak ada yang dibawa ke perasaan.
Sebagai santri yang sama-sama mempunyai hobi menulis, kami berbeda dalam "mencari ide". Seperti yang sudah disebutkan tadi, dia baru bisa mendapatkan ide ketika sudah membaca buku yang berbobot atau sejarah. Menurutku-sebagai pembelajaran bersama-seyogyanya seorang yang hobi menulis tidak mendapatkan ide hanya seperti itu. Kalau seperti itu, itu artinya kita membatasi sumber untuk mendapatkan ide. Karena, penulis baru harus banyak menulis. Jadi kalau ide tulisan saja di dapatkan baru kalau membaca buku sejarah, lalu kapan kita akan banyak menulis?
Kita harus bisa mendapatkan ide dari manapun. Entah dari membaca, mentadabburi alam atau kejadian yang sedang hangat di sekitar kita, pengalaman kita atau dari musik dan film sekalipun. Bahkan, Emha Ainun Nadjib untuk mendapatkan ide tidak perlu seperti tadi. Dia hanya perlu alat tulis saja sudah bisa menulis. Mungkin memang karena luasnya wawasan dan pemikirannya.
Mungkin sekian, tulisan ini bukan hanya mengkritik teman saya, tapi juga buat pembelajaran bagi saya dan semua orang yang mau mendapatkan pelajaran.
Walhamdulillah.
Ket. : Yang dimaksud bisa menulis(temanku tadi) adalah menulis panjang, bukan beberapa kalimat saja.
Nb : Seperti nb" biasanya.😅