Bismillah.
Ketika aku menonton video cak nun-pada saat itu sedang gojlok-gojlokan dengan Sudjiwo Tejo-aku merasa terinspirasi dengan kecerdasan cak nun. Lalu, seketika itu aku juga ingat gus Dur dan cak Nur, yang sama cerdasnya, yang dikenal sebagai intelektual muslim. Dengan kekagumanku pada kecerdasannya itu, aku malah ingin mendalami sejarah mereka dan meneladaninya. Bagaimana kehidupan sehari-hari mereka, bagaimana mereka dalam hal membaca buku, dll. Mereka(setahuku)sama-sama pencinta buku. Gus Dur malah penggila buku. Selain itu, aku memahami dari mereka bahwa lingkungan sangat mempengaruhi kualitas diri mereka. Cak Nun dulu waktu kecil sering membaca buku, ayahnya adalah pengurus Muhammadiyah yang mempunyai banyak buku di rumahnya. Lalu, beliau juga pernah studi di jogja yang notabene adalah kota pelajar dan tentunya, lingkungan pertemanannya sangat mendukung. Sedangkan Gus Dur adalah penggila buku sejak kecil yang pernah nyantri di ponpes salaf API Tegalrejo. Lalu mereka(termasuk Gus Mus juga) bertemu di Universitas Al-Azhar yang tentunya bertemu dengan kawan yang pintar nan shalih dari beberapa negara dan Syeikh-syeikh yang tidak diragukan lagi keilmuan dan keshalihannya.
Saat aku menonton video tersebut juga muncul semangat untuk belajar dan membaca buku. Padahal, sebelumnya aku kurang bergairah belajar. Kadang aku bertanya pada diri ini, mengapa aku susah-susah membaca lalu menulis pelajarannya?
Ya, lingkungan! Lagi-lagi lingkungan. Alhamdulillah! Baru tahu jawabannya setelah menulis artikel.(Karena menulis merupakan suatu cara berpikir atau memperluas pemikiran, muhasabah diri dan mengkritisi suatu hal)
Lingkungan memang sangat mempengaruhi. Mungkin aku kurang semangat belajar karena tidak ada lawan yang menjadi tantanganku. Padahal, sebenarnya banyak teman umum dan pondok yang cerdas-cerdas. Dan aku bisa saja terpacu dari kecerdasan mereka. Tapi, mengapa aku tetap belum bisa terinspirasi dari mereka? Setelah aku selidiki ternyata penyebabnya adalah aku jarang berbaur dengan mereka. Maka dari itu berbaurlah dengan kawan-kawanmu yang cerdas-cerdas nan baik. Maka, kamu akan terpengaruh dan terpacu untuk semangat belajar. Dan, belajar tidak menjadi bebanmu lagi.
(oiya, aku ingat pernah lebih semangat dan terinspirasi belajar ketika aku ngobrol dengan temanku yang otaknya cerdas)
Untuk itulah-sebagai nasehat diri- seharusnya aku bisa memanfaaatkan teman-teman dengan berbaur dengan mereka. Lihatlah bagaimana santri salaf yang aktif duduk bersama mengikuti forum musyawarah kelak menjadi Kyai besar seperti mbah Manaf Lirboyo, mbah Munawwir Krapyak, dll. Lihatlah seringnya-dan mungkin hampir tiap hari-Cak Nun dan Sudjiwo Tejo berdialog bersama dan juga dengan masarakat. Membahas dari ringan sampai tingkat tinggi, dari politik sampai tasawuf. Lihatlah Najwa Shihab berdiskusi bersama dengan mahasiswa, politisi dan orang hebat lainnya dalam satu forum. Semua itu orang yang cerdas nan hebat. Jadi, kesimpulannya adalah belajar tidak harus dengan menyendiri membaca buku terus, tapi adakalanya belajar dengan berbaur bersama teman kita yang cerdas, gojlok-gojlokan, membahas atau berdiskusi hal-hal ringan sampai yang berat itu perlu. Kalau kita ingin seperti mereka maka pelajari apa yang mereka lakukan dan teladanilah. Tapi perlu diingat! menjadi orang yang sangat cerdas dan berwawasan luas tanpa membawa pengaruh dan manfaat yang luas adalah kesia-siaan.
Walhamdulillah.
Nb: saran dan komentar dibuka seluas-luasnya.
2 komentar:
👍👍👍
👏
Posting Komentar