Blog pendidikan

Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Mei 2021

Catatan Harian 2 : Tanggapan Atas Pernyataan Seorang Teman

 Bismillah.


Malam itu, satu hari sebelum masuk pondok, aku berdialog dengan teman seangkatan dan seumuran. Pada waktu itu, aku bertanya kepadanya "lan, liburan ini kamu nulis gak?" Lalu dia menjawab, "Piye yo, aku durung moco buku," kata Fulan. Lalu dia melanjutkan,"Aku nek nulis iku kudu moco buku sejarah utowo seng berbobot sek." kira-kira dia berkata seperti itu. Maksudnya adalah dia kalau menulis itu membaca dulu baru bisa mendapatkan ide. Dan itupun harus buku yang berbobot atau buku sejarah. Asal bukan novel atau buku motifasi.

Sekilas tentang temanku itu, dia adalah Kamvret yang lahirnya duluan aku, tapi wajahnya duluan sana, wkwkw, jadi wajahnya membalap umurnya...hh..canda😂✌. Kami seangkatan di pondok dan mempunyai hobi yang sama. Yaitu membaca dan menulis. Dulu waktu jadi anak baru kami sangat akrab. Kadang sharing-sharing atau diskusi mengenai suatu hal. Dan itupun sampai sekarang masih. Walaupun aku tahu-bukan bermaksud sombong-bahwa soal cerdas dan wawasan masih banyakkan aku sedikit, banyakan dia banyak😅. (Wkwk, bermaksud canda, maksudnya)

Sampai beberapa tahun sebelum batas akhir di pondok, kami saling menanyai kelak mau melanjutkan di mana, sampai kita saling berkata, " ojo lali aku lo." So sweet banget gak sih😂. Bahkan, terkadang dia juga saya jadikan sebagai pacuan. Intinya, aku jangan sampai kalah sama dia, batinku. Wabil khususnya dalam hal menulis.

Setelah beberapa waktu berlalu, hubungan kitapun seakan-akan seperti saingan. Suatu ketika, saat seangkatan sudah tahu siapa diantara kami(seangkatan) ada yang punya adik, teman-temanpun mulai menganggil kakak kepada beberapa teman yang mempunyai adik. Termasuk si Kamvret, bahkan ia sangat intensif sekali memanggil kakak. Tapi sialnya, dia dicuekkin sama mereka. Malahan, aku yang di panggil "dek" oleh temanku itu. Yes, dan akupun menang. Haha.

Sebenarnya, sebelum aku mempunyai hobi membaca dan menulis, dia sudah terlebih dulu mempunyainya. Aku baru mempunyai hobi membaca ketika di tahun kedua dan menulisnya di tahun ketiga. Dia tipe penulis dengan gaya penyampaian seperti sudjiwo tejo, menurutku. Dia sangat mengagungkan penulis Eka Kurniawan. Sedangkan aku Habiburrohman El-Shirazy.

Lanjut pada dialog pada malam itu, sebenarnya tulisan ini sebagai tanggapan padanya dan diapun nanti boleh menanggapinya lagi. Karena memang tradisi seperti ini sudah terjadi sejak zaman dahulu. Dan diantara kitapun tidak ada yang dibawa ke perasaan.

Sebagai santri yang sama-sama mempunyai hobi menulis, kami berbeda dalam "mencari ide". Seperti yang sudah disebutkan tadi, dia baru bisa mendapatkan ide ketika sudah membaca buku yang berbobot atau sejarah. Menurutku-sebagai pembelajaran bersama-seyogyanya seorang yang hobi menulis tidak mendapatkan ide hanya seperti itu. Kalau seperti itu, itu artinya kita membatasi sumber untuk mendapatkan ide. Karena, penulis baru harus banyak menulis. Jadi kalau ide tulisan saja di dapatkan baru kalau membaca buku sejarah, lalu kapan kita akan banyak menulis?

Kita harus bisa mendapatkan ide dari manapun. Entah dari membaca, mentadabburi alam atau kejadian yang sedang hangat di sekitar kita, pengalaman kita atau dari musik dan film sekalipun. Bahkan, Emha Ainun Nadjib untuk mendapatkan ide tidak perlu seperti tadi. Dia hanya perlu alat tulis saja sudah bisa menulis. Mungkin memang karena luasnya wawasan dan pemikirannya.

Mungkin sekian, tulisan ini bukan hanya mengkritik teman saya, tapi juga buat pembelajaran bagi saya dan semua orang yang mau mendapatkan pelajaran.

Walhamdulillah.

Ket. : Yang dimaksud bisa menulis(temanku tadi) adalah menulis panjang, bukan beberapa kalimat saja.
Nb : Seperti nb" biasanya.😅

Rabu, 26 Mei 2021

Catatan Harian 1 : Ingin Seperti Cak Nun

 Bismillah.

     Ketika aku menonton video cak nun-pada saat itu sedang gojlok-gojlokan dengan Sudjiwo Tejo-aku merasa terinspirasi dengan kecerdasan cak nun. Lalu, seketika itu aku juga ingat gus Dur dan cak Nur, yang sama cerdasnya, yang dikenal sebagai intelektual muslim. Dengan kekagumanku pada kecerdasannya itu, aku malah ingin mendalami sejarah mereka dan meneladaninya. Bagaimana kehidupan sehari-hari mereka, bagaimana mereka dalam hal membaca buku, dll.

     Mereka(setahuku)sama-sama pencinta buku. Gus Dur malah penggila buku. Selain itu, aku memahami dari mereka bahwa lingkungan sangat mempengaruhi kualitas diri mereka. Cak Nun dulu waktu kecil sering membaca buku, ayahnya adalah pengurus Muhammadiyah yang mempunyai banyak buku di rumahnya. Lalu, beliau juga pernah studi di jogja yang notabene adalah kota pelajar dan tentunya, lingkungan pertemanannya sangat mendukung. Sedangkan Gus Dur adalah penggila buku sejak kecil yang pernah nyantri di ponpes salaf API Tegalrejo.  Lalu mereka(termasuk Gus Mus juga) bertemu di Universitas Al-Azhar yang tentunya bertemu dengan kawan yang pintar nan shalih dari beberapa negara dan Syeikh-syeikh yang tidak diragukan lagi keilmuan dan keshalihannya.

Saat aku menonton video tersebut juga muncul semangat untuk belajar dan membaca buku. Padahal, sebelumnya aku kurang bergairah belajar. Kadang aku bertanya pada diri ini, mengapa aku susah-susah membaca lalu menulis pelajarannya?

Ya, lingkungan! Lagi-lagi lingkungan. Alhamdulillah! Baru tahu jawabannya setelah menulis artikel.(Karena menulis merupakan suatu cara berpikir atau memperluas pemikiran, muhasabah diri dan mengkritisi suatu hal)

Lingkungan memang sangat mempengaruhi. Mungkin aku kurang semangat belajar karena tidak ada lawan yang menjadi tantanganku. Padahal, sebenarnya banyak teman umum dan pondok yang cerdas-cerdas. Dan aku bisa saja terpacu dari kecerdasan mereka. Tapi, mengapa aku tetap belum bisa terinspirasi dari mereka? Setelah aku selidiki ternyata penyebabnya adalah aku jarang berbaur dengan mereka. Maka dari itu berbaurlah dengan kawan-kawanmu yang cerdas-cerdas nan baik. Maka, kamu akan terpengaruh dan terpacu untuk semangat belajar. Dan, belajar tidak menjadi bebanmu lagi.

(oiya, aku ingat pernah lebih semangat dan terinspirasi belajar ketika aku ngobrol dengan temanku yang otaknya cerdas)

Untuk itulah-sebagai nasehat diri- seharusnya aku bisa memanfaaatkan teman-teman dengan berbaur dengan mereka. Lihatlah bagaimana santri salaf yang aktif duduk bersama mengikuti forum musyawarah kelak menjadi Kyai besar seperti mbah Manaf Lirboyo, mbah Munawwir Krapyak, dll. Lihatlah seringnya-dan mungkin hampir tiap hari-Cak Nun dan Sudjiwo Tejo berdialog bersama dan juga dengan masarakat. Membahas dari ringan sampai tingkat tinggi, dari politik sampai tasawuf. Lihatlah Najwa Shihab berdiskusi bersama dengan mahasiswa, politisi dan orang hebat lainnya dalam satu forum. Semua itu orang yang cerdas nan hebat. Jadi, kesimpulannya adalah belajar tidak harus dengan menyendiri membaca buku terus, tapi adakalanya belajar dengan berbaur bersama teman kita yang cerdas, gojlok-gojlokan, membahas atau berdiskusi hal-hal ringan sampai yang berat itu perlu. Kalau kita ingin seperti mereka maka pelajari apa yang mereka lakukan dan teladanilah. Tapi perlu diingat! menjadi orang yang sangat cerdas dan berwawasan luas tanpa membawa pengaruh dan manfaat yang luas adalah kesia-siaan.

Walhamdulillah.

Nb: saran dan komentar dibuka seluas-luasnya.