Senin tanggal 30 Mei 2022 adalah hari di mana aku meninggalkan pondok tercinta untuk melanjutkan rihlah belajar di MUSYQ. tulisan ini akan menjadi pengingatku dalam mengarungi hari-hari saat aku di MUSYQ. Dulu, saat masih di pusat, aku dan kawan-kawan saling menanyai kemana kelak setelah mondok di sini. kebanyakan mereka menjawab dengan jawaban yang membuatku terpacu. Bagaimana tidak? rata-rata mereka melanjutkan di pesantren besar. Seperti di Ploso, Sarang, Pakis, Lirboyo, bahkan ada yang melanjutkan di Yaman. Aku bersukur karena aku berada di antara orang yang mempunyai semangat dalam menuntu ilmu. Untuk itulah, aku harus bisa seperti mereka. Aku bertekad untuk tidak boleh kalah dari mereka. Bahkan harus bisa melebihi mereka. Bukankah berlomba-lomba dalam kebaikan itu baik?
Secara ilmu agama dan tempatnya, memang tempat mereka lebih mendukung. Bukan apa-apa, itu memang karena di sini posisi saya berbeda dengan mereka. Walaupun di sini ada pengajian kitab, tapi aku bebas mau ikut atau tidak. Aku cenderung bebas tanpa terikat aturan. Itu karena statusku di sini adalah ngabdi. Itu mengartikan bahwa berhasilnya aku di sini tergantung bisa atau tidak aku mengatur diri. Itu tentu lebih berat daripada di tempat yang aturan dan kewajiban dalam mengaji sudah jelas.
Sedangkan mereka, di samping mereka ada aturan wajib mengaji, mereka berada di antara orang-orang yang memang berniat mendalami ilmu. Dan itu sangat mendukung bagi seseorang yang sedang menuntut ilmu.Tapi aku bersukur. Karena di sini, aku bisa mengabdi kepada masyayikh. Aku akan ada banyak waktu dan mendekat kepada guru-guruku. Aku akan memanfaatkan semaksimal mungkin untuk mengabdi kepada guru-guruku. Bagaimanapun, mengabdi itu penting agar ilmu yang kita dapatkan menjadi berkah. Selain itu, aku juga bisa belajar bagaimana mengurus santri, mendidiknya, dan berorganisasi.
Dalam kebebasan belajar, memang ada sisi baiknya. Yaitu kita bisa bebas mengekspor potensi diri. Tapi kebebasan di sini bisa membuatku terlena pada dunia. Bisa jadi, apabila aku tidak bisa mengendalikan diri, bisa-bisa aku lupa dengan tujuan awal. Untuk itulah, semoga tulisan ini bisa mengingatkanku kembali, bahwasanya kau dulu pernah bertekad kuat untuk tidak boleh kalah dari teman-teman. Jangan sampai kau malah tambah kalah oleh mereka. Mereka sekarang sudah belajar mempeng di pesantren masing-masing. Apakah kelak kau mau saat reuni malu karena mereka sudah alim-alim sedangkan kau menjadi hina karena telah terpikat oleh gemerlap dunia? yang sifatnya sementara?
Untuk itulah, agar tidak terpikat dengan dunia, aku harus menyusun jadwal dan rencana ke depan dengan menyibukkan diri dengan belajar dan berada di lingkungan orang yang semangat belajar. Dan itu harus menjadi kenyataan. Di saat malas, aku harus ingat kalau mereka sedang belajar dan berdiskusi dengan temannya sesama santri. Maka, pantaskan aku berleha-leha padahal dulu kau sangat tidak mau kalah dengan mereka?