Blog pendidikan

Kamis, 27 Juli 2023

Story Of My Life

(Malam Senin, 9 Juli 2023)
(10 Hari setelah Hari Raya Idul Adha)
(21 y.o)

"Melanjutnya Semangatt Menulis"
Mulai hari ini, aku akan menulis setiap pelajaran dan perjalanan berharga dalam hidupku. Yang itu akan membentuk runtutan sejarah hidup yang kedepannya akan menjadi kenangan dan pelajaran bagi generasi penerusku. Dan juga akan membuat diriku agar lebih bersyukur.

Di blog in hiilah, aku akan lebih meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan waktu untuk hal penting dan bermanfaat dalam hidupku. Dan tidak menggantungkan kepuasan maupun kebahagiaan pada like, komen dan view dari orang lain. Inilah buah dari membaca Filsafat Stoacisme.
.
.
(Senin pagi, 06.25)
Ini adalah hari dimana aku bisa menulis lagi. Sekarang aku tak risau kehilangan kemampuan menulisku, karena telah meminimalisir seminimal-minimalnya untuk tidak membuang waktu di medsos dan lebih memilih untuk hal yang lebih bermanfaat bagi kehidupanku.
.
.
(Senin, Sebelum Solat Ashar)
("Pikiran baru untuk membangun Jepara.")
Salah satu harapanku di masa mendatang adalah aku bisa berkontribusi banyak pada kota Jepara. Untuk itulah, konsep mengambil pelajaran saat di kota orang selalu aku terapkan. Kemarin aku telah mengambil 3 pelajaran dari pemerintah dan masyarakat Kudus yang sepatutnya Jepara mencontohnya. Diantaranya adalah religiusitas yang tinggi, pintar berdagang dan berbisnis, dan satunya lagi aku lupa(bisa dicek di vidio tik-tok saya).

Sebelum solat ashar tadi saya mendapat pikiran baru. Yaitu, pertama, pemerintah harus lebih meningkatkan kualitas pendidikan termasuk minat baca pemudanya. Karena sebab dari kebodohan dan kemiskinan adalah pendidikan yang tidak memadai, berkualitas dan rata(menyeluruh). Yang kedua, pemerintah seyogyanya memberikan prinsip yang membangun kepada rakyatnya. Seperti misalnya, di Kudus ada konsep GusJiGang yang dipegang dan diamalkan oleh masyarakat Kudus. Sehingga pemerintah tidak terlalu berat dalam membangun kotanya karena masyarakatnya sudah banyak yang pintar membangun perekonomiannya secara mandiri. Maka, pemerintah Jepara akan lebih baik kalau membuat konsep seperti itu dengan melihat dan menyesuaikan situasi dan kondisi di Kota Jepara seperti apa.
.
.
(Senin sore, 17.20)
(Apakah Merokok benar-benar aku butuhkan dan ada manfaatnya?)

Aku terinspirasi memikirkan ini setelah membaca buku tentang keuangan. Yaitu Rich Dad, Poor Dad. Ada Aset dan ada liabilitas. Yang benar adalah anda menggunakan uang untuk membeli aset, bukan liabilitas. 

Karena aku adalah perokok berat. Aku ingin memikirkannya lagi, apa manfaat merokok bagiku? Dulu aku menganggap bahwa merokok memberi ketenangan. Tapi apakah itu benar? Mungkin secara sederhana ada benarnya. Tapi kalau dipikir-pikir, apakah itu adalah solusi dari hal yang membuat kita sumpek? Sebenarnya merokok karena sumpek adalah justru agaknya kurang menjadi solusi. Karena sebagai pengalaman saya, ketika merokok justru saya berdiam diri dan memikirkan masalah. Seharusnya saya tidak merokok dan tidak diam untuk berpikir. Karena masalah ada karena justru kita pikirkan.

Kedua, terbiasa merokok yang akhirnya hampir setiap hari aku membelanjakan penghasilanku hanya untuk rokok. Bayangkan, katakanlah dalam seminggu aku menghabiskan uang 55 ribu. Sebulan aku menghabiskan uang 220.000,-.

Itu sudah diangka lumayan banyak kalau hanya untuk membelanjakan rokok yang dengan alasan lebih tenang. Padahal itu hanya ilusi.

Ketiga, akan lebih baik aku belajar mengelola keuanganku. Mungkin uang yang awalnya untuk membeli rokok seharga 220.000 bisa aku gunakan untuk membeli buku tebal yang sangat recommended dan berkualitas sekali untuk masa depanku. Bisa membeli dua buku berkualitaslah.

Keempat, aku harus selalu ingat pelajara mengelola keuangan dengan membelanjakan penghasilan untuk aset. Yang dapat menghasilkan uang lagi.
.
.
.
(Hidup jangan mengikuti arus)
Pelajaran di buku rich dad hal 67)
.
.
.
.
(MALAM SELASA, 10 JULI 2023)
(22.24)
(YouTube: Nek gak mok mulai Saiki, ameh mok mulai kapan? Ngenteni akeh tanggungan?)
Malam ini aku menguatkan tekadku lagi untuk segera membangun channel YouTube. Tak ada alasan lagi untuk menunda-nunda. 

Barusan aku menonton vidio YouTube. Seorang pemilik Chanel tentang akuntan itu sedikit berbicara bahwa dia sekarang tidak menyangka channel-nya bisa berkembang seperti ini. Lumayan memang viewrs-nya. Dan dia melanjutkan bahwa dulu vidionya tidak rapi, tidak sistematis sehingga dimungkinkan penonton sulit memahami maksud apa yang disampaikan. Dan berkat ia tetap membuat vidio pada akhirnya sekarang akunnya berkembang sampai 900 k viewrs.

Pelajaran yang ingin saya ambil adalah mulailah membuat vidio sekarang. Karena dengan memulai sekarang artinya kita belajar lebih awal dan 2 tahun kedepan mungkin kita akan menjadi ahli. Tetapi beda halnya ketika kita menunda-nunda sampai tahun besok, besoknya lagi, besoknya lagi bahkan mungkin tidak jadi karena banyak tanggungan, maka kita tidak jadi mendapat apapun, andaikan hari itu mulai tetap saja kita tidak sejago ketika saya sudah memulainya dari sekarang.
.
.
.
.
(Selasa, 08.10)
"Pegang ucapanku ini, 2 tahun lagi dari sekarang aku akan ahli dalam publik Speaking. Menyampaikan gagasan dan pikiranku dengan seni berbicara!"
.
.
(Malam Rabu, 18.09)
"Saya tidak takut terlihat bodoh ataupun tampak bodoh. Yang aku tak mau adalah benar-benar bodoh."

(Malam Rabu, 00.35.)
"MUS-YQ Tercinta"
Kepada yang lebih tua, belajarlah kepadanya. 

(Malam Senin,17 Juli)

Puisi dari Gus Nadirsyah Housen

(HANYA)

Kami hanya debu yang beterbangan
Diputar tak tentu arah oleh badai cintaMu

Kami hanya kelopak bunga yang bermekaran
Diperindah tak terkira oleh tetesan embun kasih sayangMu

Kami hanya pejalan yang merangkak berkeluh kesah
Ditarik mendekat tak berjarak oleh dekapan ujianMu

Kami hanya hamba yang merindu tak berkesudahan
Dibebankan amanah tak terperi di dunia ini oleh lambaian kuasaMu

Kami hanya menunggu tiba waktu berpulang
Diperlama oleh sekian ambisi kehidupan seolah kami tak lagi mengenalMu

Kami hanyalah hamba yang terus bertanya
Dijawab dengan harapan akan syafaat NabiMu

Tabik,

(Malam Selasa, 17 Juli)

Merintis sendiri memang berat di awal. Tapi jika kamu terus konsisten, proses itu akan menjadi kesenangan bagimu. Korbarkan semangattmu. Cintai prosesnya. Maju pantang mundur. Kelak kamu akan menikmati hasilnya dan berterima kasih kepada dirimu saat ini. Tetap semangatt!

(23.25)

Gakpopo mlaku alon-alon, Dar. Seng penting ojo nyerah. Ojo nyerah! Ojo mandek!! Ojo putus asa!! Semangaaatttt!!!

(MalJum, 21 Juli, 02.09)

Tadi malam aku telah menonton seorang pengusaha muda yang mengatakan tentang harta berharga bukanlah uang, tetapi waktu. Dan saat ini, saya juga mendapatkan pelajaran yang sama dalam buku Filosofi Teras. Maka saya pribadi mengambil kesimpulan dengan quote, "Harta paling berharga adalah waktu. Bukan uang ataupun harta benda. Karena itu bisa dicari. Sedangkan tuhan memberi waktu kepada kita sama. Tinggal bagaimana seseorang menggunakan waktunya untuk hal yang produktif banyak hal atau kebalikannya, untuk menjadi manusia berkualitas atau tak berkualitas, untuk hal yang membuat kaya atau miskin, dsb." 


Malam Jum'at, 04.00, 21 Juli.

(Menjadi lebih dewasa dengan tidak bermain cinta)

Sekarang, aku telah bertekad untuk tidak bermain cinta dan hanya memikirkan pernikahan ketika masuk usia 30 an. Untuk itulah, aku ingin menasehati diriku, menempa diriku dan semua orang yang menginginkan kebijaksanaan, bahwa belajarlah lebih dewasa untuk menyiapkan segalanya sebelum memasuki pernikahan.

Aku berharap tuhan menuntunku agar bisa lebih fokus dan selalu konsisten mengembangkan diri dalam segala hal dan memanfaatkan waktu semaksimal mungkin-di masa muda khususnya. Entah dalam segi pendidikan diri, ilmu pengetahuan, mental dan ekonomi.

Tak ada gunanya bermain cinta atau mencari² "pacar" yang sebenarnya belum tentu jodoh kita. Toh, jodoh sudah disiapkan tuhan untuk kita. Ceroboh sekali diri kita ketika sibuk mencari-cari pasangan tapi tak ada bekal yang kita siapkan.

Sebenarnya saya turut prihatin kepada para pemuda(wanita khususnya) yang tidak mengerti hal ini. Mereka sibuk melakukan hal unfaedah atau memposting kecantikannya di media sosial agar menarik para lelaki. Setelah itu ia bebas bersenang-senang dengan lelaki pilihannya yang berhasil ia goda (yang mungkin ia tidak sadar telah menggoda). Setelah itu ia ditinggalkan, sedih, mencari lelaki lain, ditinggalkan lagi dan seterusnya. Dan ketika mereka para wanita menemukan lelaki yang bagus dalam segala hal, mereka membayangkan mendapatkannya dan setelah itu berkata, "Aku mah apa?" Hei, salah siapa kamu tidak menggunakan waktumu untuk terus mengembangkan diri dan menfokuskan kecantikanmu untuk calon suamimu saja?

Terakhir, jadilah pemuda-pemudi yang berkualitas!

.

.

.

(Analisis mengenai mengapa bulutangkis di Indonesia lebih maju daripada sepakbola)

Kudus, Rabu, 26 Juli 2023.

14.10

"Waktu lebih berhaga daripada uang."

Tidak ada yg lebih berhaga daripada waktu dan ilmu. Uang bisa dicari, selama ada usaha dan keyakinan kepada tuhan yg maha pemberi Rizqi. Sedangkan waktu terus berlalu tanpa bisa diputar kembali. Kalau sudah seperti itu, mengapa kita sebegitu keras dan sibuknya mencari uang? Bahkan untuk beribadah saja tidak begitu diperhatikan. Lalu, pantaskah menginginkan dunia dengan mengabaikan pemilik dunia?

Semua tergatung persepsi kita. Berpikir positif akan mendapatkan manfaat. Berpikir negatif hanya menurunkan kwlitas dan tak mendapat apa-apa. Pernah sa berdiskusi denga teman saya tentang motifasi.

(Jum'at, 28 Juli, ba'da Solat Jum'at)

"Untuk calon istriku kelak."

"Dek, tolong jaga dirimu di sana. Mas di sini sedang susah payah dan merajinkan diri untuk menuntut ilmu, memperbaiki diri, menjaga diri, dan bekerja keras untuk masa depan kita. Kamu jangan pacaran, Ya. Fokus ngembangin diri aja.:)

Malam Rabu, 22 Agustus

Sampai sejauh ini, saya masih meyakini bahwa kunci sebuah negara maju adalah pertama pendidikan, kedua spiritualitas.

Dan hal utama dari aspek pendidikan adalah membaca buku.

Maka dengan ini, saya akan melihat sejauh mana pikiran ini bertahan.




(Menjadi lebih dewasa dengan tidak bermain cinta)
.
.
(Philosophy Of King)




Kamis, 20 Juli 2023

About Philosophy

(MalJum, 21 Juli, 03.00)
"Setiap Kesusahan Menempa Seseorang Menjadi Pribadi Kuat."

"Kesusahan yang datang terus menerus membawa berkah ini: mereka yang selalu tertimpanya, akhirnya akan diperkuat olehnya." ~Seneca
---- Aku teringat dengan seorang Ulama yang pernah dawuh intinya begini, "Kebanyakan putra Kyai yang tidak bisa meneruskan bapaknya adalah karena putranya dimanja." 
---- Aku bersukur kepada Allah karena aku selama ini seakan "dilatih" oleh Allah. Banyak hal yang membuatku ditempa untuk menjadi lelaki yang tidak manja. Membuatku harus bisa berdiri di kaki sendiri. Waktuku tidak ada yang santai. Tuhan memberiku cobaan, ujian dan tekanan yang menuntutku untuk berpikir mencari solusi, tidak berleha-leha dan selalu meng-upgrade diri.

Untuk itulah, pelajaran yang tuhan berikan kepadaku juga akan aku berikan kepada anak-anakku. Aku harus memberikan pendidikan yang terbaik kepada mereka     (yang tentunya tidak sebatas pengajaran saja). Aku tidak mau memanjakannya, dan membiasakan mereka hidup rekoso dahulu sebelum ingin mendapatkan sesuatu.

Terakhir saya percaya dengan perkataan: "Kesusah-payahan, ujian, masalah akan menempa seseorang menjadi kuat dan besar. Zona nyaman dan serba kecukupan akan membuat sesorang menjadi lembek."

Selasa, 11 Juli 2023

Rangkuman Tentang Pengetahuan keuangan

Buku Rich Dad, Poor Dad
#Terkadang uang tidak menjadi solusi bagi banyak hal yang kebanyakan manusia mengatakan bahwa solusinya adalah uang dan uang. Karena solusi sebenarnya adalah otak. Bagaimana kita memaksimalkan otak untuk berkreatifitas. 


Ketika saya menulis ini saya belum membaca isi dari bab tersebut. Akan tetapi, saya langsung terlintas di pikiran kurang lebih seperti ini: Belajarlah untuk membangun aset dari sekarang. Dan sekarang saya telah berjuang untuk membangunnya. Bukan sekedar aset yang menghasilkan uang, akan tetapi keilmuan, wawasan dan juga pengalaman. Saya berpikiran bahwa manusia hidup sulit untuk hanya menyibukkan diri pada ilmu dan bukan juga menggunakan waktunya untuk bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarganya. 

Maka, kalau bukan sekarang, kapan lagi? Pada akhirnya suatu saat saya mungkin pasti menggunakan waktu saya untuk bekerja demi keluarga. Bukankah nabi juga begitu? Bukankah KH Sya'roni Kudus juga begitu? Makadariitu juga, saya lebih memilih merintis dan menyiapkannya sekarang, tentu dengan menyeimbangkan waktu untuk mencari ilmu.

Dan yang juga penting dari itu, yang menjadi gambaran pertama ketika melihat judul tadi adalah, saya harus mengurusnya sendiri! Tak boleh karena tidak ada rekan yang membantu membuat saya tak melakukannya.

2. Berhati-hatilah dengan membelanjakan dan mengelola uang.  Menggunakannya untuk aset harus lebih dipentingkan.


Pikiran 
Apakah utang selamanya tidak baik?

Bagaimana kalau kita utang, lalu membelanjakan utang tersebut untuk aset/sesuatu yang dalam jangka pendek bisa menghasilkan uang perbulannya, lalu untungnya digunakan untuk membayar dan melunasi utang, sampai lunas, terus aset itu sudah menjadi milik kita sepenuhnya, bukan kah itu baik? Walaupun aku tahu nggak semudah itu ferguso.

Kamis, 26 Januari 2023

Kegabutan Malam Jum’at Dan Jalan Terjang di Masa Muda

 


Lumaya sulit dan lumayan berat. Itulah kalimat yang cukup mewakili apa yang saya rasakan di masa muda. Sungguh masa muda adalah masa emas. Masa dimana seharusnya sesorang menjadi produktif, banyak belajar, banyak mencoba hal baru dan mempeljari skill baru. Aku tau itu, dan akupun juga ingin mencapai target-target yang harus dicapai. Tapi, agaknya itu sungguh berat. Skil seperti menulis, publik speaking, editing foto dan vidio, dan sedikit menguasai teknologi harus aku kuasai. Kadang aku berpikir untuk mundur dan hanya fokus untuk mempelajari ilmu saja. Ngaji, membaca buku, mempelajari kitab kuning, menulis, gitu terus sampai tiba-tiba aku diambil menantu kyai besar dan aku dikuliahkan di universitas impianku, dan semua impianku bisa tercapai dengan mudahnya tanpa aku berusaha sendiri mewujudkannya. Tapi, itulah yang aku bingungkan. Aku sudah terlanjur memulai. Apakah aku harus melanjutkannya atau aku fokus saja pada ilmu-ilmu dengan membaca buku, mempelajari kitab dan menulis? tanpa mempelajari skil yang dibutuhan di era modern ini?

Agaknya aku sedikit mendapatkan jawaban (dan sering seperti ini aku mendapatkan inspirasi-yaitu dengan menulis sesuatu yang menjadi permasalahan)

Mungkin jawaban yang tepat adalah: yang terpenting bagi diriku adalah mementingkan “isi” lebih dahulu. Aku harus lebih mementingkan belajar ilmu-ilmu, menulis dan belajar menyampaikan daripada mempelajari skil-skil yang masuk kategori “kulit.” Oke mungkin itu juga penting, tapi kamu tak banyak waktu untuk itu dan akan lebih baik jika hal itu kamu serahkan kepada orang lain yang menguasai “kulitnya” dan mau diajak kolaborasi. Sisi kerjasama atau gotong-royong harus ada yang akibatnya hasilnya akan lebih besar daripada melakukan semuanya sendirian.

Semua itu butuh yang namanya proses dan yang terpenting jangan sampai tidak menggunakan waktu muda untuk mempelajari ilmu-imu khususnya ilmu agama dan umum. 

 

Rabu, 28 Desember 2022

Makna Lagu “Sebelum Cahaya” Dari Sudut Pandang Pribadi

 

 


*Note: Bacalah dengan mendengarkan lagunya.

Ku teringat hati yang bertabur mimpi                   Ke mana kau pergi, cinta?         

Perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri        Kuatkanlah hati, cinta

Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja
Yang menemanimu sebelum cahaya
Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra
Yang 'kan membelaimu, cinta

Kekuatan hati yang berpegang janji
Genggamlah tanganku, cinta
Ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri
Temani hatimu, cinta

Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja
Yang menemanimu sebelum cahaya
Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra
Yang 'kan membelaimu, cinta

Ku teringat hati yang bertabur mimpi
Ke mana kau pergi, cinta?
Perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri
Kuatkanlah hati, cinta

Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja
Yang menemanimu sebelum cahaya
Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra
Yang 'kan membelaimu, cinta

Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja
Yang menemanimu sebelum cahaya
Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra
Yang 'kan membelaimu, cinta

Kan membelaimu, cinta

                                       #

Sebelumnya, saya adalah seorang yang suka mendengarkan musik. Karena ketika saya mendengarkan musik, apalagi ketika membaca buku maupun menulis-tentu dengan batas selama tidak menggangu konsentrasi- akan cenderung lebih bersemangat lagi.

Termasuk lagu yang saya sukai adalah lag-lagu milik letto. Ketika saya mendengarkan lagu milik letto yang kebanyakan memiliki makna tersirat seperti puisi, apalagi penyanyinya adalah seorang yang intelektual dan pemikir handal, membuat saya bersemangat untuk belajar- karena memang itulah fungsi hidup saya di dunia selain menyembah Allah tentunya.

                                  # 

[Ku teringat hati yang bertabur mimpi 

Ku teringat dengan sejumlah impian-impian besar yang sedang ku perjuangkan. Aku yang saat itu sedang merasakan betapa memang beratnya berjuang mencapai impian-impian itu. Dan saat itulah aku merasakan, benarlah orang yang berkata lebih baik bersakit-sakit di masa muda daripada bersakit-sakit di masa tua. Artinya, untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik daripada masa sekarang adalah harus mau bekerja keras dan bersusah payah di masa muda. Tiada kemulyaan dan keindahan di akhir yang diraih dengan bermalas-malasan. Mumpung di masa ini adalah masa dimana fisik dan pikiran sedang bagus. 

[Ke mana kau pergi, cinta?]

Mengingatkan kepadaku jikalau semua yang kamu impikan dan cita-citakan itu untuk apa? Apakah untuk hal duniawi atau ukhrowi? Apakah yang kamu kejar-kejar hanya untuk dirimu sendiri atau untuk kemanfaatan banyak orang? Ketika bermimpi, pastikan mimpi itu baik dan akan lebih baik lagi kalau impian itu adalah yang bermanfaat kepada banyak orang dan rakyat lemah. Juga kepada agama maupun negara.

[Perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri] 

Entah mengapa, seakan-akan lagu ini adalah pesan dari Allah untukku, aku yakin itu. Banyak diantara lirik yang seakan memberi jawaban, pengingat dan penyemangat dari Allah untukku setelah apa yang aku rasakan dan aku panjatkan doa sebelumnya. Seakan meneguhkanku kalau kamu bisa berjuang sendiri(tentu kesendirian yang dimaksud adalah kesendirian tanpa makhluq-dengan Allah).

Tiada yang melirik kita ketika kita belum apa-apa dan masih dalam keadaan rempeyek. Orang-orang akan melirik kita ketika kita nampak kesuksesannya. Sebagus dan semulya apapun pikiran dan impian visionermu, orang jarang sekali yang mau membantu bekerja sama. Apalagi kamu adalah anak muda ingusan yang belum pasti bakat dan keahliannya. Mereka tidak mau menanggung resiko.

Dan memang, aku tidak bisa berharap lebih kepada siapapun. Manusia hanya memberi bantuan sedikit-sedikit. Aku tidak bisa meminta pertolongan lebih kepada kakakku, aku tidak bisa meminta tolong lebih kepada orangtuaku apalagi kepada teman. Aku juga tidak mau apabila aku kecewa dan membenci mereka karena mereka menolak membantuku. Aku harus berjuang sendiri.

[Kuatkanlah hati, cinta]

Setelah kamu sadar bahwa kamu hanya bisa berjuang sendiri. Dalam hatiku meneguhkan: kamu bisa!! Kamu bisa!! Aku harus selalu berpikir positif dan yakin bisa mencapainya, Karena memang itulah bekal agar tidak gampang menyerah. 

[Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja
Yang menemanimu sebelum cahaya]
[Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra
Yang 'kan membelaimu, cinta]

Menandakan bahwa alam ini akan menjadi saksi bisu perjuanganmu. Saksi bisu kesendirianmu disaat  kamu belum menjadi apa-apa. Di saat kamu belum bisa berbuat manfaat luas kepada siapapun dan apapun yang yang menjadi harapanmu.

[Kekuatan hati yang berpegang janji] 

Aku kuatkan hati dan tekadku untuk mengejar impian. Aku kuatkan tekad untuk tidak melakukan suatu hal itu sebelum impian itu terjadi. Dan aku akan memikirkan cara untuk itu. Aku kuatkan keyakinan hati kalau itu pasti akan tercapai.

[Genggamlah tanganku, cinta
Ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri
Temani hatimu, cinta]

Allah yang akan menuntunku. Allah yang akan menemaniku di setiap waktu dan proses perjuangan. Dan Allah tidak akan membiarkan hambanya sendirian untuk impian yang baik. Ya, Allah akan menemaniku dengan cintanya kepadaku. Sesuai kadar cintaku kepada-Nya, bahkan lebih.



Kudus, 28 desember 2022.

Jumat, 29 Juli 2022

Sekedar Curhatan Malam

 

Malam itu, di @kv estu, saya sedang menyendiri-melakukan kebiasaan yang saya sukai. Menulis dan mendengarkan musik. Bagaimana mendengarkan musik itu bisa membuat mood dan lebih semangat dalam menulis. Ditambah lagi ada kopi di sisiku dan rokok sebagai pelengkap kopi itu. Aku bersukur karena aku bisa mendapat kebahagiaan dengan hal positif. Dan ketika itu yang terjadi, rasanya ingin sekali hanya fokus kepada ilmu-ilmu. Tak ada lagi rasa ingin berpacaran dan menikah muda walaupun banyak godaan di luar sana.

Memang rasa bosan, malas, stres, dan down bisa terjadi. Dan terkadang, di situlah muncul pikiran kalau ingin mempunyai sosok yang bisa membuatku semangat dalam menjalani hidup. Sosok yang bisa membuatku semangat dalam berjuang. Yang bisa membuatku bangkit ketika jatuh. Dan yang terpenting bisa menjadi partner dalam berjuang bersama. Tapi di saat yang sama, aku berpikir, bagaimana kalau pasangan itu sendiri malah menjadi penghalang dan membelokkanku dari jalan perjuangan?

Seribu satu hal yang ingin dicapai. Sebanyak itu pulalah semangat harus berkobar. Memang sekarang tak ada jihad melawan penjajah, tapi lebih dari itu, jihad melawan kebodohan dan mengejar semua impian adalah jihad seorang pemuda berjiwa besar masa kini. Tak ada kata merdeka atau mati. Tapi, bersusah -susah sekarang atau bersusah-susah nanti. Oh, tunggu. Sebenarnya tiada susah dalam pikiran para pejuang. Mereka menikmati perjuangan sebagaimana para pemalas menikmati kemalasannya.

Berbicara mengenai impian, semoga semua impianku tercapai. Sebagai anak laki-laki di keluargaku, aku bertekad untuk menjadi semacam pahlawan dan pembeda yang membawa banyak perubahan. Nama Haidar yang berarti singa seolah menunjukkan bahwa kamu harus berjiwa pejuang dan pekerja keras. Yang tak kenal rasa takut dan mundur. Ada banyak cita-cita yang harus ditaklukkan. Dan sebanyak itu pula manusia yang harus mendapat kemanfaatan.

Dan biarlah impian itu aku dan Tuhan yang tahu. Saatnya kembali untuk beristirahat. Dan mempersiapkan hari esok untuk bertempur kembali, dengan semangat yang menggelora. Semoga saja.


Selasa, 07 Juni 2022

Lembaran baru, tantangan baru, dimulai!

    Senin tanggal 30 Mei 2022 adalah hari di mana aku meninggalkan pondok tercinta untuk melanjutkan rihlah belajar di MUSYQ. tulisan ini akan menjadi pengingatku dalam mengarungi hari-hari saat aku di MUSYQ. Dulu, saat masih di pusat, aku dan kawan-kawan saling menanyai kemana kelak setelah mondok di sini. kebanyakan mereka menjawab dengan jawaban yang membuatku terpacu. Bagaimana tidak? rata-rata mereka melanjutkan di pesantren besar. Seperti di Ploso, Sarang, Pakis, Lirboyo, bahkan ada yang melanjutkan di Yaman. Aku bersukur karena aku berada di antara orang yang mempunyai semangat dalam menuntu ilmu. Untuk itulah, aku harus bisa seperti mereka. Aku bertekad untuk tidak boleh kalah dari mereka. Bahkan harus bisa melebihi mereka. Bukankah berlomba-lomba dalam kebaikan itu baik?

     Secara ilmu agama dan tempatnya, memang tempat mereka lebih mendukung. Bukan apa-apa, itu memang karena di sini posisi saya berbeda dengan mereka. Walaupun di sini ada pengajian kitab, tapi aku bebas mau ikut atau tidak. Aku cenderung bebas tanpa terikat aturan. Itu karena statusku di sini adalah ngabdi. Itu mengartikan bahwa berhasilnya aku di sini tergantung bisa atau tidak aku mengatur diri. Itu tentu lebih berat daripada di tempat yang aturan dan kewajiban dalam mengaji sudah jelas. 

    Sedangkan mereka, di samping mereka ada aturan wajib mengaji, mereka berada di antara orang-orang yang memang berniat mendalami ilmu. Dan itu sangat mendukung bagi seseorang yang sedang menuntut ilmu.Tapi aku bersukur. Karena di sini, aku bisa mengabdi kepada masyayikh. Aku akan ada banyak waktu dan mendekat kepada guru-guruku. Aku akan memanfaatkan semaksimal mungkin untuk mengabdi kepada guru-guruku. Bagaimanapun, mengabdi itu penting agar ilmu yang kita dapatkan menjadi berkah. Selain itu, aku juga bisa belajar bagaimana mengurus santri, mendidiknya, dan berorganisasi. 

    Dalam kebebasan belajar, memang ada sisi baiknya. Yaitu kita bisa bebas mengekspor potensi diri. Tapi kebebasan di sini bisa membuatku terlena pada dunia. Bisa jadi, apabila aku tidak bisa mengendalikan diri, bisa-bisa aku lupa dengan tujuan awal. Untuk itulah, semoga tulisan ini bisa mengingatkanku kembali, bahwasanya kau dulu pernah bertekad kuat untuk tidak boleh kalah dari teman-teman. Jangan sampai kau malah tambah kalah oleh mereka. Mereka sekarang sudah belajar mempeng di pesantren masing-masing. Apakah kelak kau mau saat reuni malu karena mereka sudah alim-alim sedangkan kau menjadi hina karena telah terpikat oleh gemerlap dunia? yang sifatnya sementara? 

     Untuk itulah, agar tidak terpikat dengan dunia, aku harus menyusun jadwal dan rencana ke depan dengan menyibukkan diri dengan belajar dan berada di lingkungan orang yang semangat belajar. Dan itu harus menjadi kenyataan. Di saat malas, aku harus ingat kalau mereka sedang belajar dan berdiskusi dengan temannya sesama santri. Maka, pantaskan aku berleha-leha padahal dulu kau sangat tidak mau kalah dengan mereka?

Sabtu, 25 Desember 2021

Pelajaran dari Timnas Indonesia.

 Pada tahun sekitar duaribu tiga belasan Timnas Indonesia menjajal uji coba melawan club-club besar Eropa. Seperti Barcelona, chealsea, intermilan, bayer munchen, dll. Hal itu sangat baik karena timnas akan mengetahui secara langsung dan merasakan bagaimana club besar Eropa bermain dan seberapa kemampuan kita bermain daripada club-club besar itu. Dalam pertandingan itu, timnas berusaha keras untuk bisa menyamai dan kalau perlu mengungguli mereka dalam bermain sepak bola. 

Dari kisah singkat tersebut, dapat diambil pelajaran bahwa jika kita ingin maju, singkirkan rasa malu. Apalagi gengsi. Indonesia tidak takut malu banyak dibobol oleh club-club besar itu karena akan banyak pelajaran dan pengalaman bagi Indonesia. Begitupun ilmu, kalau kita ingin menjadi orang berilmu, ambillah ilmu itu dimana saja, walaupun itu ada pada anak kecil atau gelandanganpun.

Selain itu, pertandingan itu mengajarkan kita untuk selalu berada di lingkungan orang-orang yang lebih tua dan berilmu daripada kita. Jika begitu, kita akan lebih cepat berkembang. Tetapi walau seperti itu, kita tak boleh pilih-pilih teman dan tetap membuka pintu lebar-lebar kepada seseorang yang ingin berteman baik dengan kita.

Minggu, 24 Oktober 2021

Self Reminder

 Pengingat diri

1. Jangan iri dengan kehidupan oranglain yang bermewah-mewahan dan bersenang-senang. Tetaplah menjadi dirimu yang sederhana. Karena bahagia itu sebenarnya sederhana. Tidak perlu bahagia dengan bermewah-mewahan kalau dengan yang sederhana saja bisa. Nikmati saja apa yang kamu lakukan. Jangan melihat kenikmatan oranglain. 

Menikmati rokok kopi dengan kawanmu yang sholeh, cerdas dan humoris atau dengan mendengarkan ceramah lucu dan berbobot, atau dengan membaca maupun menulis itu sebenarnya sudah membuat kamu bahagia.

2. Sebenarnya yang membuat kita gelisah, sedih, masalah ada atau seakan-akan semakin besar itu karena kau pikirkan. Kosongkanlah pikiran kita terhadap hal yg tak membuat kita berkembang! Tak ada gunanya memikirkan sesuatu yang membuatmu gelisah dan bersedih. Nikmatilah saja hidup ini dan fokuslah pada masa depan!

Begitu pula ketika kita gelisah menginginkan sesuatu yang tidak kita punyai, itu karena kita terus memikirkannya. Cobalah untuk melupakannya dan menikmati apa yang ada, maka penderitaan karena menginginkan sesuatu itu akan berakhir.

Misal, kita menginginkan hp baru, pacar, atau apalah yang itu berdasarkan nafsu, bukan berdasarkan kebutuhan penting atau kemanfaatannya, jika kita berhenti memikirkannya dan melupakannya maka itu sebenarnya sudah menjadi solusi yang tepat. 

Jumat, 22 Oktober 2021

Pelajaran Dari Pak Jokowi : Kunci Hebat dalam Memimpin Negara.

Pelajaran dari pak Jokowi saat ditanyai cak Lontong mengapa bisa hebat dalam memimpin sampai2 dipilih menjadi bupati dan presiden dua periode. Jawaban pak Jokowi adalah yang terpenting dimulai dari kita sendiri dalam memimpin keluarga. Ini yang paling penting, ucap pak Jokowi mengulanginya lagi.


Misal, kita mempunyai rumah tangga baru, lalu kita menyusun visi dan misi untuk kedepan, lalu kita berlatih bagaimana cara agar rumah tangga kita dari sisi ekonomi bisa tercukupi dan lebih-lebih bisa membantu orang yang membutuhkan. Ketika ada masalah datang, bagaimana agar kita bisa memimpin rumahtangga kita agar bisa menyikapi masalah itu dengan baik. Dan juga bagaimana agar rumahtangga bisa mencapai kesuksesan yang akibatnya bisa bermanfaat bagi keluarga itu sendiri dan masyarakat. Dalam lingkungan keluarga inilah kita akan latihan kecil yang akan bermanfaat ketika kita akan memimpin yang lebih besar lagi. Intinya, latihlah jiwa kepemimpinanmu dengan melatih keluargamu dulu. Kamu bisa menjadikan istrimu partner atau wakilmu untuk membawa keluargamu-khususnya-anakmu agar sukses segalanya. Sukses di dunia dan akhirat.

*Tulisan di atas adalah pengembangan dari pelajaran yang diambil dari perkataan pak Jokowi.